Saya Ke Bogor

Sejenak melepaskan diri dari rutinitas umum di Jakarta. Ibukota ini bisa menjadi sangat membosankan. Tebaran mall dan apartemen di penjuru kota, gedung-gedung tinggi yang memuakkan membuat saya jenuh. Ingin rasanya ada suatu taman kota nan luas, penuh dengan bunga dan pepohonan dimana kupu-kupu melayang bebas.

Pada 20 Maret 2011 saya memberanikan diri untuk gone adios ke Bogor. Ini kali ketiga saya sih ke Bogor. Namun yang membedakan adalah kali ini saya menggunakan mass transportation. Saya pakai kereta listrik (KRL). Ini juga merupakan kali pertama saya menjejakkan kaki di Stasiun Kota. Agak was-was dan clingak-clinguk juga sih awalnya, musti beli tiket di mana, nunggu kereta dimana. Hehe

Saya naik KRL Ekonomi AC menuju Bogor. Awalnya, saya pikir hanya KRL Ekonomi AC saja yang membawa penumpang menuju Buitenzorg, tapi ternyata ada juga KRL Pakuan Express yang lebih cepat. KRL Ekonomi AC berharga Rp 5500. Sedangkan Pakuan Express harga tiketnya adalah Rp 11.000.

Sejujurnya saya agak bingung dengan macam-macam kereta yang ada di Stasiun. Harus berada di jalur mana, menuju mana, ohhh tidak tertulis mana yang tujuan Bogor. Tidak ada tulisan mana KRL Ekonomi AC, dan mana yang Pakuan Express. Hampir saja saya salah naik kereta. Hehe..tapi yah, newbie bisa dimaklumi.

Gambar diatas adalah suasana di Stasiun Kota. Kelihatan sepi ya. Namun, mmph cukup ramai hari itu. Saya pun menuju Bogor. KRL Ekonomi AC ini ternyata berhenti di setiap stasiun. Ya lumayan la, saya jadi mengerti stasiun-stasiun apa aja yang ada di Jakarta. Saya sangat menikmati pemandangan diluar. Jakarta ohh Jakarta, dibalik megahnya gedung-gedung itu, terselip bilik-bilik mengenaskan. Dengan pakaian tergantung diluar, dapur yang mengerikan, rumah-rumah kumuh. Pemandangan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang sering saya lihat setiap hari. I feel blessed! I am. Thanks God you put me in a better place. Saya engga habis pikir, bagaimana mereka mencukupi diri mereka. Apa mereka nyaman berada ditempat seperti itu? Engga ada kamar mandi pribadi, rumah yang mungkin hanya berukuran 5×5.

Anyway, lamunan saya cukup lama ternyata. Saya pun sampai di Bogor. Stasiun Bogor ini serasa engga safe. Banyak orang-orang yang melintasi rel kereta. Saya membayangkan bagaimana jika ada kereta yang tiba-tiba melintas. Siang itu Bogor cukup panasss..Sangat panas bahkan. Saya menikmati hawa eksotis Bogor di siang itu.

Saya berjalan dari stasiun menuju Kebun Raya Bogor (KRB). Ternyata jauh juga yaa..hanya bermodalkan bibir yang bertanya pada abang-abang dipinggir jalan, saya dan kawan saya berjalan kaki sampai KRB. Walau sesekali berhenti untuk menikmati es durian abal-abal seharga Rp 5000 hehe.

Tiket masuk KRB adalah Rp 25.000. Waw, cukup sejuk ketika saya memasuki kebun hijau-hijau ini. Mata serasa segar, benar-benar segar. Sekiranya saya memang membutuhkan alam terbuka yang hijau. Saya menikmati moment tersesat saya di hutan KRB. Cukup lembab suasana disini. Sejuk tapi panas. Nah loh, bingung kan? hehe. Tapi itu lah kondisi di sana. Perhatian saya tertuju pada toilet di KRB. Menurut saya toilet itu jorok, hmmph sejorok-joroknya. We have to pay Rp 2.000. What can you get with Rp 2000? A clean hygienic toilet? Lupakan itu. Kebocoran air di toilet dan bau serta gelaaap. Cukup tahan napas, selesaikan urusan pertoiletan dan segeralah menjauh dari tempat itu.

Dengan angin sepoy-sepoy saya terduduk di bangku taman. Kolam dengan teratai didepan saya, pohon-pohonan di belakang saya. Hmm betapa indahnya. Tarik napas yang dalam, menutup mata sambil mengatur file-file memori dalam otak saya. Don’t i love my life? Benar-benar pemandangan yang menyejukkan hati dan mata.

Saya dan kawan saya pun singgah di Cafe Dedaunan, satu-satunya restoran di KRB sepertinya. Saya menilik toiletnya (tetep) dan ternyata mm ‘cukup bersih’ namun saran saya, lebih baik jangan di sitting closet. Karena you have to wipe it maybe hundred times to make sure it’s clean enough for you. Makanan di Cafe Dedaunan, cukup enak loh. Saya memesan nasi tutug oncom dengan harga Rp 46.000 dan orange juice Rp 12.000. Orange juice nya yang sebenarnya cukup menyedihkan. Hanya segelas mungil namun di banrollĀ  dengan harga satu gelas penuh orange juice diluaran. Yaaa cukup mahal memang makan di tempat wisata macam ini.

Makan-makan usai, dan yah inilah yang bikin malas pulang. Yaitu mencari main gate KRB. Saya merasa in the middle of no where dan kemudian mencari jalan pulang. Saya harap tadi saya meninggalkan remahan roti sebagai penunjuk jalan menuju gerbang utama : )

Tersesat dan tersesat, ahh engga di KRB, engga di jalanan umum, engga di Jakarta, saya selalu tersesat. Namun akhirnya yip yip ditemukanlah gerbang KRB. Bye bye KRB senang menginjakkkan kaki disini. Karena moment tersesat, mampir lah kami berdua di Warung Asinan Bogor :D . Seporsi asinan sayur yang menyenangkan perut yang kembali lapar karena tersesat. Then we were going back to the station dan bersiap-siap kembali ke Jakarta. This time, we took Pakuan Express supaya lebih cepat sampai. Untunglah kereta ini sepi, sehingga i had more space for myself to sleep. Cukup comfy kok kereta yang satu ini.

What a nice trip! Saya ketagihan naik KRL sebenarnya. Ternyata enak juga. Bogor menyenangkan. Walau hanya ke KRB, tapi cukup lah memanjakan mata dan kembali menjernihkan pikiran.

Leave a Comment

Filed under Miaw's Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s