R.T Aroeng Binang I (Djoko Sangkrib)

Bagi mereka yang kurang atau tidak mengetahui dengan betul, mengatakan bahwa trah keturunan R.T. Aroeng Binang I adalah keturunan Kajiman, karena adanya banyak ceritera mengenai Dewi Retno Nawangwulan dari Bulupitu. Maka perlu adanya penjelasan, bahwa Eyang Aroeng Binang I disamping adanya Nawangwulan juga mempunyai isteri-isteri lain dan putera-puterinya sebagai berikut.

I. Dewi Retno Nawangwulan, peputra:
1. Eyang Klantung
2. Eyang Cemeti
3. Eyang Isbandiyah

II. Mas Ajeng Kuning asal Pelegen, peputra:
1. R.Ay. Pangeran Blitar, isteri Pangeran Blitar.
2. R. Honggodirdjo, Kliwon Kabupaten Bumi Sewu di Surakarta, menantu KGPAA. Mangkunegoro I (Pangeran Sambernyowo), karena kawin dengan putra-putrinya yang bernama BRA. Semi.
3. R.Ay. Abdulsalam, isteri Kyai Abdulsalam, Pengulu Kebumen. Kyai Abdulsalam (Ngabdulsalam) semare di Jrakah, putra Kyai Jontrot. Sedangkan Kyai Jontrot adalah putra Pangeran Korowelang di Selomanik, daerah Pejajaran.
4. R.Ay. kromowidjojo (Sala).

III. Mas Ajeng Dewi, asal Winong, peputra:
1. R.Ay. Wonoyudo, isteri Kyai Ngabei Wonoyudo dari Telaga Mirit Prembun.
2. R. Wongsodirdjo (R.T Aroeng Binang II) berputera 23 orang. Yang no. 7 menjadi Bupati Nayaka Sewu dengan nama RT. Djojonegoro dan menjadi menantu Paku Buwono IV dan diangkat sebagai Pepatih Dalem yang kemudian berganti nama R. Adipati Sosrodiningrat. Putri nomor 4 menikah dengan RMT. Aroeng Binang III.
3. Mas Ajeng Wongsodiwiryo, isteri M. Ngabei Wongsodiwiryo Prembun.
4. Mas Ajeng Soerodiwiryo, isteri R. Ng. Soerodiwiryo, Mantri Kabupaten Bumi Sewu.

IV. Mas Ajeng ragil asal Prajuritan, peputra:
1. R. Ng. Wongsodikromo, Penewu kabupaten Sewu di Surakarta.

aroeng binang I-IV

About these ads

136 Comments

Filed under New Experience

136 responses to “R.T Aroeng Binang I (Djoko Sangkrib)

  1. orciica

    Hai.. seru nih topiknya.. jadi pengen tau lebih banyak… terusin lagi dong pembahasannya ;) thank’s

  2. orciia

    Hai Dian.. senangnya comment aq dibales niiy.. Oya, apa kakeknya ada hubungannya juga sama Eyang Aroeng Binang ? Dari Trah yang mana ? :)

  3. orciica

    Eyangnya tau banyak ya soal sejarah Djoko Sangkrib ? :) thx

  4. dian

    iya, eyang saya dari trah Honggowongso atau dikenal dengan Djoko Sangrib..Kalo boleh tau, orciia ini juga ada hubungan dengan Djoko Sangrib?

  5. orciica

    Hmm.. iya. Dan entah kenapa, beberapa tahun belakangan ini rasanya pengen tau lebih banyak tentang sejarah keluarga. Udah berkali2 coba nyari buku, browsing internet or anything yang berisi informasi tentang Djoko Sangkrib… sampe akhirnya ada tulisan Dian. Thanx 2 u.. rasanya seperti ada temen. Ya mudah2an Dian ga keberatan untuk berbagi informasinya. Dian keturunan dari eyang AB I ya ? Btw.. kl pas ada waktu.. chatting yuk ? ;)

  6. dian

    Lho, malah ketemu sodara di sini… :)
    senangnya…
    iya, saya dari AB I..yups..kapan2 kita chatting..oke oke

  7. orciica

    Hehe.. makanya translate tulisannya Eyang Kakung lagi dong.. :) Kayanya ga semua orang punya catatan sejarahnya ya ? Kalo Aroeng Binang itu gelar ato apa ya ? Diteruskan secara keturunan ato gimana ? Oya satu lagi… pengen liat silsilah kecil bangeeet.. ga keliatan niy :)

  8. Nana

    Dian,

    Kayaknya tulisan kamu harus diterusin deh. Keluarga aku bilang, kalo aku turunan eyang aroeng binang 5. Dan aku gak tau sejarahnya gitu. Tiap ditanya mereka jawabnya malang melintang. Apalagi kakek nenek aku udah gak ada. Bisa ditanya gak kalo eyang aroeng binang ke 5 itu darimana?

    Thanks ya

    • Sutarno

      Nana,
      Kurang lebih sudah 3 bulan berjalan saya kenal seseorang yang bernama “Momi Pratomo” tinggal di Condet Jakarta selatan, beliaunya adalah anak dari ibu Tri Amini Tirto Doprojo (anak Eyang Tirto Diprodjo/anak aroeng binang V), aku kenal beliaunya lewat teman saya yang dari Kebumen, beliaunya terkenal sebagai penasihat sepiritual yg cukup lumayan. barang kali anda bisa nyambung sisilahnya

      • Husna Syahra

        Mommy Pratomo itu saudara aku, beliau pernah mengasuh aku waktu kecil :)
        aku juga dari aroeng binag, cuma ngga jelas silsilahnya, eyang aku R.Soekadjat. seneng nih ada blog seperti ini, makasih ya Dian.

  9. Sutarno

    hee thanks rupanya ada yang buka jalur, waktu aku duduk di bangku SD Pak De saya pernah bilang eyang2mu itu dari Perembun keturuan honggo wongso , dan katanya saudara mu itu ada yang ada di Mirit, canggah saya dari Prembun yang punya anak 3 (buyut saya)1, di Desa Wono enggal Grabag (Purworejo), 2 Seputaran Desa Tanjung Rejo, Bayan Purworejo, Desa Bendungan, Grabag Purworejo,Pad De saya dulu sering nunjukin buku sisilah beliaunya meninggal waktu masih saya kecil, dan sekarang saya tanyakan bukunya hilaaang… apakah ad obornyaa lagi???, sampai sekarang saya masih bisa komunikasi cicit2 keturunan di antara 3 buyut tersebut..

  10. Sutarno

    Keturunannya banyak yang jadi prajurit, termasuk saya sendiri…. he he he…

  11. Ngomong2 ya sekarang kan bulan sadran ( Sya’ban ), adat di telaga pragoto mirit, Prembun mengadakan sadranan, untuk tahun 2009 ini perayaan slametan sadranan jatuh tanggal berapa? kami dari RST cab. Cilacap ingin tau. karena kami sekarang lagi ada di luar jawa.

  12. hendrik

    eyang tolong kirimi silsilah secara detail donk….karena saya penasaran,,,menurut cerita bapak ,ibu dan eyang sya masih ada darah joko sangkrip,,,,makanya tlong kirimi silsilahnya secara detail

  13. KPA.Arif Firmansyah

    kalau boleh saya tau tolong minta bantuannya tentang sil silah saya.
    eyang kakung saya dari tlogo mirit putra dari kasan kusen yang kembar dan bernama R.Sudiyono
    kalau eyang putri dari RM.Pringgo Wasito
    tolong bantuannya masalahnya kalau saya urutkan bingung .

  14. Sutarno

    Untuk sementara kita masih kesulitan untuk menelusuri sorosilah Djoko Sangkrib (Simbah Honggowongso), ngomong2 Lebaran kemarin saya mudik dengan anak dan istri saya cukup napak tilas dari tanah kelahiran saya kemudian jalan ke Sukoharjo, Mbayat Kelaten, Keraton mangkunegaran beserta lihat Kebo ky Slamet ga lupa dengan Pasar Kelewernya, pulang lewat jalur alternatip Jogyakarta – Cilacap melintasi Pedesaan Ngurut Sewu,Desa Singoyudan, Desa Telogo, Petanahan ngalor ke Kota Kebumen, Ya aku jadi ingat dulu pernah Napak tilas dan Ziarah ke Pemakaman Keturunan Keraton Mangkunegaran bersama Ibu Paula istri Ongki Alexsander Th 1999, Insya Allah kinginan kita akan terwujud amien, Taqubbalallohu minna waminkum

  15. dr,R,Wisnu Kusumawardana

    Saya sangat bahagia,ternyata masih ada yang ingat leluhurnya,perihal eyang Aroengbinang I saya banyak data ttgnya,a.l=babad Kebumen,nukilan babad mataram,babad tutur,serat wicara keras dll,dmana didlmnya ada cerita ttg eyang Aroengbinang I yang cukup rinci.Kebetulan saya keturunan ke7 dari beliau melalui jalur R.Ajeng Pangeran Blitar/Balitar.Didlm catatan eyang canggah saya disebutkan bahwa ciri2 Eyang Aroengbinang a.l adalah tinggi sedang kira2 167cm,kulit coklat kemerahan,rambut bergelombang lurus,matanya sangat tajam,alis tebal panjang,wajahnya manis menarik hati,dada bidang tapi telapak tangannya ramping seperti perempuan,sifatnya yang sangat galak diimbangi dengan banyak belas kasih serta amat sangat setia,gemar belajar agama serta sastra,keahliannya adalah strategi tempur,astrologi,tabib,dan mampu membuat keris seperti halnya para empu keris. Beliau anak tunggal dan dilahirkan oleh seorang ibu putri dari Raden demang Warganaya di desa Wawar Kebumen bagian timur selatan,melalui jalur ibunya,eyang Aroengbinang adalah turunan ke4/buyut Pangeran Bumidirdjo(Putra Panembahan Senopati di Mataram).Demikian tambahan info dari saya,untuk lebih rinci,tunggu blog saya,terima kasih.

    • agusti putra

      kulonuwun,

      boleh nimbrung gak, aku orang kebumen yang bukan dari keturunan arung binang hanya kebetulan sangat berminat dengan ketokohan arung binang, saat ini saya menyimpan naskah babad arung binangan dalam bentuk naskah carik, naskah carik adalah naskah yang ditulis tangan oleh seseorang, dan biasanya naskah ditulis tidak hanya satu edisi, melainkan terdiri dari beberapa edisi atau buku, yang salah satu diantaranya menjadi naskah sumber atau ‘BABON’ sedang yang lain sebagi tedhakan atau salinan, tidak tau pasti apakah naskah yang saat ini ada pada saya naskah tedhakan atau bukan yang pasti dalam upaya penyelamatan sedang saya usahakan dalam bentuk digital, dan terus berburu mencari naskah yang sama di beberapa perpustakaan seperti RADYA PUSTAKA, SASANA PUSTAKA REKSA PUSTAKA, PURA PAKUALAMAN DLL mungkin ada yang bisa membantu saya, terimakasih.

    • Jimmy

      Assalamu’alaikum wr. wb.
      Saya juga masih keturunan Arumbinang I,.,.
      Saya tahu nya bukan langsung dari nenek atau kakek saya.
      Melainkan dari seorang yang juga masih keturunan Arumbinang.
      Bagaimana kalau kita bareng napak tilas kembali,.,.

    • RB.Budi Santoso

      Maaf dr.R.Wisnu saya mau nimbrunng nih saya jga masih keturunan Pangeran Boemidirjo didlm silsilah yg saya punya klu Pangeran Bumidirjo bukan anak dr panembahan senopati melainkan cucunya, pangeran bumidirjo adalah anak dari Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hadi Prabu Hanyokrowati (Raden Mas Jolang )

    • didiek

      Salam kenal untuk dr. Wisnu. Saya adalah salah sastu keturunan Aroeng Binang. Ayah saya R. Acmad Mustofa lahir di Masaran, Bawang, Banjarnegara. Putra dari Penatus Masaran R. Hoedawikarta alias Soeboel alias Sorparman. Saya sendiri dari Panembahan Senopati adalah generasi ke-XII. Demikian.

      • djarot

        Salam kenal saudaraku didiek aku jg turunan dr eyang R.Hoedowikarto eyang langsungku namanya M.Toha eyang putriku yg turunannya R.Hoedowikarto tinggalnya di Banjarnegara belakang Kodim moga moga silaturahim kita nyambung…

  16. dr,R,Wisnu Kusumawardana

    Oh..ya ada yang terlewati,menurut catatan eyang canggah saya lagi,saat Pangeran Poeger mau meninggalkan Jenar(kraton kecil untuk membangun dukungan massa di Kebumen) untuk mengejar Trunojoyo,beliau berpesan pada istrinya(ibunya eyang Aroengbinang I) bahwa “anak yang masih ada didlm kandungan ini kelak bila lahir laki2 mohon diberi nama Aroembinang/Aroengbinang,dan apabila lahir perempuan mohon engkau yang memberi nama,dan ini pusaka(keris,kalung dan cincin bermata batu akik coklat) untuk anak ini kelak bila sowan ke keraton sebagai tanda bukti bahwa dia benar2 anak saya”.Untuk selanjutnya begitu lahir tidak langsung diberi nama itu oleh ibunya oleh karena situasi perang,musuh ada dimana2 mencari semua yang berkaitan Pangeran Poeger,diberi nama oleh kakeknya Joko Sangrib(=rahasia) dan demi keamanannya lagi,bayi joko sangrib dititipkan ke Budhenya agar diaku anak kandung,lagi-lagi demi keamanan,budenya adalah istri demang di Kuthawinangun Kebumen.Nama Aroengbinang dipakai oleh joko Sangrib ketika waktu beliau masih bernama tumenggung Honggowongso karena jasanya(menanggulangi beberapa pemberontakan,dan membantu Pangeran Wijil IV serta tumenggung Yosodipuro I dalam memindahkan keraton Kartosuro ke Keraton Surakarta Hadiningrat),oleh Sinuhun PB II dia ditanya mau diberi nama apa? jawabnya jikalau diijinkan diberi hadiah nama Aroembinang/Aroengbinang,karena nama itu adalah nama pemberian beliau P.Poeger/ayahnya.

    • dian

      wah, terimaksih Pak Wisnu telah mampir….terimakasih sekali atas infomasi tambahannya..Saya sangat senang…

      • haryanto

        Salut kpd sedulur2 yang masih ingat kpd para leluhur tambahan informasi bahwa yang memugar Goa Jatijajar, Kebumen adalah turunan Eyang Aroembinang V, namanya Saptoto pematung/pelukis Yogyakarta putra Bp. Santoso Tirtodiprodjo (Putra eyang Tirtodiprodjo…..Eyang Tirtodiprodjo adalah putra Eyang Aroembinang V)

      • dian

        terimakasih pak haryanto atas tambahan informasinya :D

  17. taufik

    Kalau arung binang iv kok nggak muncul, cobajelaskan, aku juga ingin tahu AB IV

  18. maria

    otak atik asal matuk aku sih mung manthuk-manthuk ra mudeng…….

  19. zaldy sonata

    aku boleh di kirim mengenai wonoyudo/an dong.., di desa merit ketawang., mengenai tumenggung wonoyudho yang waktu itu sang istri dr tumenggung wonoyudo untuk mempunyai anak santri yang dapat berbaur dengan masyarakat dan tumenggung mengabulkan keinginan istri na.., dan menyerahkan istri na kepada petani dan menerangkan maksud hal yang di inginkan tumenggung wonoyudo atas keinginan sang istri agar anak dalam kandungan nya dapat menjadi santri., dan semua biaya kebutuhan na di penuhi sm sang tumeggung wonoyudo,…
    kira2 bisa ngak yaa minta bantu aku untuk bisa share mengenai Tumenggung Wonoyudo.

  20. zaldy sonata

    aluw…aku minta info mengenai tumenggung wonoyudo (wongso jowo) yang mahkam na di ketawang purwerejo di desa merit, konon ada versi mengenai tumenggung wono yudo mempunyai istri yang mengiginkan anak mereka untuk dapat menjadi santri dan dapat berbaur dengan masyarakat,,. dan tumenggung mengabulkan permintaan sang istri.., yang kemudian tumenggung wonoyudo menyerahkan istri na kepada petani yg di pilihnya dan menerangkan kepada petani tersebut untuk menerima istrinya serta anak dalam kandungannya untuk tumbuh / dekat masyarakat serta menjadi santri.., dan semua kebutuhan na di penuhi oleh tumenggung wonoyudo dengan memberi nama anak tersebut Soehodo (Kyai Soehodo).., kira bisa bagi2 info mengenai tumenggung wonoyudo nda., atau kontak person na., dan ini no ku 08568906067.., aku mau cari benang merah atau riset mengenai wonoyudo.., tks. zaldy sonata

    • Wuryanto

      Mas, kalau mau tahu banyak tentang Wonoyudo, idealnya datang ke makamnya disana ada juru kunci, yang bisa ditanya siapa narasumber yang bisa dimintai keterangan. Wonoyudo atau Wongsojoyo bukan Wongso jowo. Desa Mirit adalah kabupaten Kebumen, memang kecamatan Mirit berbatasan langsung dengan kabupaten Purworejo. Pasarean komplek Wonoyudo dikenal dengan sebutan ” Mbah Lancing” atau Pagerboto. Carinya gampang karena Makam ini posisinya dibelakang Ma Koramil Mirit +/- 300 meter.

  21. mhakim93

    terima kaseh kepada yang buka laman ini. saya ruslan dari kuala lumpur. sya menunggu2 ruangan ini untuk berhubung dengan sedulur2 di jawa khusus bojongsaji kebumen. kakek saya asal kebumen yang telah minggat ke malaysia di akhir tahun 1800. dan sy telah menjejaki sedulur hingga sampai ke desa bojongsari. dibojongsaji saya telah diperjelaskan secara lisan bahawa saya dari keturunan arung binang tapi gak tau yang keberapa. saya telah di bawa kemakam embah boyot kyai ahmad ngalim dan seterusnya saya sempat ziarah kemakam arung binang 1-7 dengan bantuan penjaga kunci. setelah itu saya mulai membaca cerita2 mengenai Joko sangkrip dan arung binang. agak asing pada saya kerna kakek saya gak punya kesempatan utk bercerita di mana keturunan saya sebenarnya. cumanya kakek orang yang luar biasa punya ilmu kebatinan yang agak aneh dan luar biasa. pernah bertugas dengan sultan Selangor dan sultan johor kerana keluarbiasaannya. sekarang saya sering berhubung dgn so call pakde dibojongsari kebumen. bernama pak khairuddin, saya amat rindu untuk ketemu sedolor2 dijawa. saya boleh dihubungi di mhakim93@gmail.com atau +60123662525 .Ir.ruslan Shah alam

  22. hendromasto

    mantap sekali tulisan soal AB ini. kebetulan saya menemukan nama AB dalam beberapa babad yang saya baca. perannya dalam sejarah jawa tak bisa dientengkan. namanya disinggung dalam babad kartasura, giyanti, hingga babad panambangan.

    beliau dikenal sebagai senopati tangguh. pangeran mangkubumi alias HB I pernah hampir tewas di tangan AB setelah pasukan mangkubumen tercerai berai oleh amukan AB (babad giyanti tak menyebut AB ke berapa). Pangeran mangkubumi lolos dari maut setelah bersembunyi di balik gerumbul.

    mohon info lanjutan utk yag ini :

    2. R. Wongsodirdjo (R.T Aroeng Binang II) berputera 23 orang. Yang no. 7 menjadi Bupati Nayaka Sewu dengan nama RT. Djojonegoro dan menjadi menantu Paku Buwono IV dan diangkat sebagai Pepatih Dalem yang kemudian berganti nama R. Adipati Sosrodiningrat.

    maaf, dalam babad solo saya menemukan nama sosrodiningrat diberikan kepada Bagus Sanjaya (patih surakarta 1769-1782) oleh PB III. adipati sosrodiningrat ini kemudian diasingkan ke desa ayah sak wetanipun cilacap (pekuncen?) dan kemudian dibuang kembali oleh kumpeni ke betawi hingga meninggal. apakah ini orang yang sama?

    di daerah ayah, pekuncen, kroya, ada satu makam. di situ tertulis nama Adipati Mangkupraja II patih kraton solo. apakah hubungan MP II ini dengan sosrodiningrat?

    salam,
    hendromasto (penggemar babad bukan iso)

    • Siti saleha Padmasedhana

      Untuk semua salam kenal, saya memang tertarik akan cerita tentang siisilah keluarga, ada yang saya akan tanya kepada siapa aja yg bisa jawab, apakah Pangeran Boemidirdjo diatas dari urutan K.R.P Honggowongso(aroeng Binang I), kemudian ada Aroeng binang 2,(yg mana keturunan dr aroeng binang 2 , ada yang keturunan yg bernama R. Soerodirjo 1 – 3, kemudian ada keturunan lagi yang bernama R. Soedono Padmosedhono. Saya mohon bagi yg mengetahui tolong sy diberi tahu, karena hanya ingin tahu, selama ini sy hanya meraba-

  23. ayyyyyyaoaoaoaoooo………..banggga jadi anak indonesia.thank mirit dah doekspossss?????????mampir blog q yooooo..bocahmirit.blogspot.com

  24. Sutarman

    Saya ikut senang, masih ada sejarah kebumen yang beredar bebas dan mudah dicari oleh yang membutuhkan.Dan saya akan merasa lebih senang lagi kalau ada buku khusus atau ensiklopedi kebumen yang lengkap, mulai sejak jaman kerajaan dahulu sampai sekarang.Idhep-idhep melu nguri-uri budaya. Kalau ada yang bisa membantu, terima kasih.

  25. dian

    well, thank to all of you….wah ternyata banyak yang pingin tahu tentang Aroeng Binang..Siapa menyangka melalui halaman ini, saya bertemu dengan saudara-saudara….Saya juga masih belajar tentang budaya dan kerajaan..jika ada yang mengetahui lebih lanjut please feel free to tell us here.. :)

  26. Salut!! matur suwun banget atas infonya, tolong dong di ulas lebih dalam lagi.. apalagi kalau disertakan sejarah tiap2 desa atau daerah yang ada di kebumen. Saya sebagai anak asli Singoyudan – mirit, sangat mendukung untuk untuk nguri-uri sejarah budaya kota kebumen. bravo… (http://www.teguhprihantaro.blogspot.com)

  27. laila

    klo AR.Agung Rasha Kridosono handaruroso
    itu kenal dak?
    singkatan AR itu apa?

  28. sony

    mohon penjelasan tentang Dirdjo Soedharmo (eyang buyut saya) karena dari sorosilah yang beliau buat, mendeskripsikan bahwa beliau adalah grat 4 dari Honggowongso.

  29. dhika

    tks semua, bangsa yg besar adalah bangsa yg menghormati para pendahulunya atas perjuangannya, buyut saya Haji Ibrahim dari desa winong,mirit,
    kebumen beliau org yg taat agama,menurut cerita buyut sy mempunyai ilmu kebatinan,lahir sekitar Th 1800 umurny 100th lebih mempunyai anak 18,saya ingin ngumpulke balung pisah sesama byut melalui kesempatan ini mungkin ada yg pernah mendengar sejarahnya, tks mari kita kebumen.

  30. Muchamad Solahudin

    mohon kiranya berkenan memberikan seluruh silsilah kepada kami. Saya asli kutowinangun sekiar 300m dari pemakaman JOKO SANGRIP. Konon Joko sangkrip ini sembuh dari penyakit Gatal2 (GUDIG) setelah tirakat di masjid mbah canggah saya (Almaghfirullah Mbah Kyai Satarudin asli winong rejosari Ambal). Muchamad Solahudin

  31. HERRY SUMARDJITO

    Yth, bagi para pemerhati Trah Wonoyudan, besuk tanggal 1 Agustus 2010 akan diadakan nyadran di Makam Eyang Wonoyudo di Desa Tlogo, Mirit kabupaten Kebumen, disana terdapat Makam Eyang R.Temenggung Wonoyudo I (Hinggil)’ RT. Wonoyudo Gerbong (Wongso Djoyo), RT. Wonoyudo Alus (Wonodikraman) dan Eyang Kyai Lancing yang keramat serta makam 2 leluhur yang lain seperti R. Wono Prodjo dll. silahkan kalau mau berpartisipasi, terima kasih, Wassalam

    • dian

      Terimakasih Pak Herry atas informasinya :)

    • setiya

      he, he kala prembun mirit itu salah mas
      udah pada tau belum sih
      nih alamat yang bener .wergonayan.mirit.
      cari tu alamt desa wergonyan.mirit.kebumen.
      soalnya wergonayan itu desa aku
      sekedar info semoga bermanfaat
      terimakasih

  32. HERRY SUMARDJITO

    Sekedar memberitahukan pada para generasi muda pemerhati Trah Wonoyudo, Paguyuban Sentono Wonojoedo sudah berdiri sejak 42 tahun yang lalu, dengan tujuan mengumpulkan sanak kadang keturunan Trah Wonojoedo utk saling kenal, saling asah, asuh dan bersilahturahmi, sebagai pendiri organisasi ini adalah mendiang para almarhum sbb: Bp.Mayjen Dr. Kamil Wonojoedo (alm) (mantan Anggota DPRGR), Bp. Moch.Rosad Wonojoedo (alm), Bp. Mayjen. Burhani Tjokrohandoko (mantan Dirjen Haji) , Bp. Prof.DR. Sadatun, (dr. Pribadi Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX), Bp. DR.H.R.A.W. Darwis, SH, Bp. Laksda. Drs. H. Moechrodji (mantan Dirjen Sosial), Bp. Drs. H. Pardjan Sasongko, SH, Bp. Adam Soetoyo, dll, nah setelah beliau 2 wafat, pada saat ini Kepengurusan Pusat dipegang oleh Bp. Tjoek Sulman,MM sebagai Pgs.Ketua Umum, Ir. H. Siswanto Wonojoedo sebagai Ketua II, dan BP. Muhd.Zakaria sebagai Sekretaris, sayangnya para generasi mudanya banyak yang tidak aktif dalam melestarikan organisasi ini. padahal Organisasi ini sudah memiliki cabang disaentero Nusantara, bahkan ada yang diluar negeri. Nah kalau para generasi penerus mau menjalin silahturahmi utk meneruskan organisasi nir laba ini, dan syukur 2 mau membesarkan sehingga menjadi organisasi yang mapan seperti organisasi sejenis yg lain, maka akan memberi banyak manfaat dikemudian hari. Memang kendala yang dihadapi oleh setiap organisasi adalah soal pendanaan, tidak ada suatu organisasi yang survive tanpa dukungan dana, oleh karena itu setiap anggota harus merelakan utk memberikan iuran alakadarnya dan secara sukarela sekedar utk mengisi dana organisasi yang seharusnya dikelola secara profesional,transparan dan akuntabel. Saya sebagai generasi penerus berkewajiban utk memberitahukan kpd generasi yg lebih muda. Saya yakin generasi yg lebih muda sekarang ini banyak yang telah berhasil baik didalam karier, bisnis maupun kegiatan yg ditekuninya. Semoga ada yg berminat utk melestarikannya, Alamat Sekretariat JL. Karet Raya V No. 28 RT.005/07 Setiabudi, Jakarta Selatan, terima kasih, wassalam.

  33. Reuspatyono

    Sebagai keturunan Wonoyudo, saya juga punya obsesi untuk membangkitkan kembali semangat para pendahulu kita, melestarikan persaudaraan melalui suatu organisasi. Mari kita sempatkan untuk bertemu muka dengan saudara-saudara kita yang selama ini mungkin belum pernah saling mengenal, sekaligus nyadran bareng yang jatuh pada 1 Agustus 2010 di pesarean agung Pager boto, desa Tlogo kecamatan Mirit kabupaten Kebumen.

  34. Terima kasih kepada saudara-saudaraku,sekedar info,saya sedang berupaya bikin blog dengan nama AROENGBINANG1,didalamnya saya posting tentang Babad Kebumen/Aroengbinang 1,dan beberapa cerita beliau yang ada di beberapa BABAD a.l=babad Giyanti,babad Mataram,babad Kartosura,babad Mangkunegoro,babad Panambangan,Serat Wicara Keras karya Yososdipuro II,dll. Tentunya saya upayakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Tidak lupa pula,dalam blog saya,saya sertakan pula beberapa ‘Serat’ karya Pujangga.Kemudian sekedar memberi masukan kepada Yth.Mas Agusti,kemungkinan naskah carik yang ada ditangan mas adalah Babad Mataram,terima kasih.Saya tunggu di blog saya.

  35. Sulwan

    Kemarin hari minggu saya ke makan Eyang Aroembinang dan saya ceritakan bahwa katanya saya ada keturunan daru Eyang sawunggaling dan eyang sawunggaling adalah keturunan dari Eyang Arumbinang ke VI hal itu sesuai dengan penjelasan dari Juru Kunci Makam, Saya ingin mengetahui sejarah eyang saya Arumbinang ke 6 mungkin ada yang bisa menceritakan kepada saya

    • Husna Syahra

      aroeng binang ke VI itu dari eyang Soeryoamidjoyo, aku juga dari dari yang ke VI, eyangku R.Soekadjat, Ibuku RR.Onny Syahrani. dulu Ibu menjadi sekretaris redaksi di majalah Patrab, yang diketuai Ibu Ibnu Hartomo di Jakarta. sayang ya sekarang majalahnya sudah tidak aktif lagi.

  36. agusti putra

    ini adalah hasil trasliterasi sya yg dimulai dari hal 15 karena kndisi naskah yg rusak. hal 1 smpe hal 14 hilang (tanpa cover).
    Cariyos babad Arung Binangan (??) punika kasalin aksara Jawa dening Agus Budiono, S.S (AGUSTI PUTRA), kawiwitan saking kaca 15 amargi kaca 1 dumugi 14 sampun ical (korup). PUPUH DHANDHANGGULA (1) 1. Sowan kawula paduka gusti, dinuta ing putra jeng Narendra, gusti ngaturan kundure, …mring negari mentarum, jeng sinuwun sanget rudatin, tinilar panembahan, praja harahuru, dhawuh putra padukendra, sakathahing lepat samar miwah lahir, putra nuwun aksama. 2. Wantos-wantos gusti jeng putra ji, ulun kinen andherek sarenga, menawi boten kadherek sarenga, menawi boten kadherek, sanisdhaya pinugut, cagak kopyah kawula gusti, dhuh gusti kuwelasa, ing kawulanipun, engeta mring putra Nata, tur kawula tumunten kundhura gusti, wisuda among putra. 3. Paranbaya dresananing runtik,tilar praja manglena mukweng, nepsu temah kelurung, tan wun katempah lalis, prayogi ulatana, kanitya …… seratan kabusak/ical)…… , tama utameng dumadya, taralan muhung rukun lan kulit daging, otot bebalung …… seratan kabusak/ical)…… 4. mugya mulya ningalam dunyeki, ing …… (seratan kabusak/ical) …… raja Nara Nata, pikantuk lahir batine, amranani rahayu, putra wayah sawuri wuri, ruwiya malak mandar, kadarmanya wimbuh, bubuka sangking paduka, pinten pinten kanugrahaning Suksma, sirik yen tinolaka. 5. kathah kathah aturnya putra di, manohara amrih liliya, ing penggalih sang wirage, jeng pangeran asma wuwus, lah ta uwis menenga kalih, ing reh aja dinawa, temah murung laku, ywa ngucap kang ora ora, luput apa sinuwun dhumateng kami, mandraweng wiwilangan. 6. balik dhewe kang angrasa sisip, marang ratu keh kapiutangan, ngener aturira kuwe, wit keringan wak ingsun, ya margane sangking Nrepati, kang sun sandhang sun pangan, pasiyaningratu, during bias amalesa, wong pinanggul enak enak mangan goling, gegolongan duraka. 7. leh sun lunga sangking praja iki, nora marga serik miwah mrina, mung setya males sih rajeng, mumuji ring yhang agung, rahayune gri Narapati, upama sun mujiya, neng praja tyas bawur, kaurugan mutya boga, mutyasmara brastha prabawaning puji, bonggan gawe linakyan. 8. becik ngasoa sireku kalih, yen wis aso lah nuli baliyo, matura maring sang rajeng, manira nyuwun bendu, durung bias seba wak mami, iya tapi rang bara, sawetawis taun, pinareng bias sewaka, ora beda ing kana kene pan sami, kagungane Sri Nata. PUPUH SINOM (2) 1. angabehi wirayuda, lan ngabehi wirasari, …… (seratan kabusak/ical) …… kaungkungkulan sabda, tan bangkit amarana malih, cinipta nora bali, jrih pepecuh sanga Prabu, wau sakehing jalma, sakala ngungun ningali, dene datan nyana yen iku Kusuma. 2. kusuma terah mentaram, amindha mindha wong cilik, samya lumungsur linggihnya, nembah matur angrerintih, kang ngabdi sewu sisip, kasamaran ing pandulu, gusti angapuntena, rila sarira ginitik, langkung awon ingkang ngabdi tiyang karang. 3. semangke sampun pratela, jeng paduka gusti mami, mangsa purun linggih jajar, rineksaha boten wani, yen mengkaten kang ngabdi, ing karang katiban ndaru, karob samudra kilang, kagunturan wukir sari, …… (seratan kabusak/ical) …… tyas. 4. ngandika sang mindha sudra, kang …… (seratan kabusak/ical) ……, jer iradating hyang Suksma, lalakone wong ngaurip, sira sak putu mami, kadang mitra wong tuwaku, …… (seratan kabusak/ical) ……, terusna kaya kang nguwis, ngaraha …… (seratan kabusak/ical) …… dunya. 5. padha asal saking adam, payo kene mrak lan mami, gumrumung matur anembah, gusti nuwun nuwun amrih, ya ta jalma sawiji, prenagati wastanipun, matur apundirangan, dhuh mongsa inggiha gusti, kula ingkang angawisi tiyang kathah. 6. upami wonten puruna, mendonong jajari gusti, kawula kang amelathas, tertamtu titiyang baring, dhasar tiyang ing ngriki, kathah boten sumrap ngurus, awit rumiyin mila, sampun kawula sanjangi, yen paduka trah Kusuma witaredya. 7. nanging sami boten gega, malah saami nyenthulani, nuruti bongsa luhamah, plenthing weteng lambe klimis, tan uning tata krami, pratingkah clala calulu, gya sumaur cumlalak, pun jugi lalinggih wuri, jaka tuwa bedhigul punuk trajumas. 8. si biyang ngameki prang, adol tuwa adol bangkit, wong karang kabeh dicacad, tesmak bathok tan wruh gusti, mung dheweke pribadi, mangerti weruh ing ngurus, kapan nggone wewarah, kiprenasa jege urip, mung angempol amurih den mulenana. 9. gumampang arep melathas, jajal pelathasen mami, mumpung neng ngarsa bendara, kang kathah samya ngojongi, angilonipun jugil, gumrumung anguwus uwus, prenagati kewedan dhaleleg tan bisa angling, angabehi wirasari lon medun. 10. sanak aja kekerengan, weleh welehan pakarti, kang nguwis aja kinocap, pan wis karsane jeng gusti, namur mindha wong cilik, rehning samengko wis weruh, jeng Pangeran Bumidirja, iku keng paman sang aji, kangjeng Sunan kang ngedhaton ing mentaram. 11. padah den becik rumeksa, turuten sakarsaneki, bisuk yen sira kapriksa, ing kangjeng Sri Narapati, kaya uga maringi, panarima mring ngawakmu, umyang matur kikila, sandika temtu nglampahi, siyang dalu cumadhong reh sang bendara. 12. tan winarna laminira, wau ta gandhek kekalih, saben dina ngela ela, supadi jeng pangran lilih, kersaha anuruti, kundur dhumateng mentarum, ananging jeng pangeran, ing tyas lir prabata wesi, nora kiguh mring atur pamanohara. 13. putek barubah werdaya, nekad datan sedya mulih, yen wangsula pesthi lena, angur nungku aneng ngriki, ngabehi wirasari, wirayuda tan mamatur, gusti inggih kawula, andherek tumameng ngriki, kalilana mangestu pada paduka. 14. ulun temah tilar semah, pangran Bumidirja angling, lah iya sakarepira, serayanata kita ki, pira lawasing ngurip, mung sepanguneng dunyeku, senadyan ta muktiya, keringana aneng nagri, nora enak suwita ratu ruhara. 15. akarya sawening wening, mateni wong tanpa titi, apa ta nora intuka, wawalesing reh durniti, dumeh dadi Nrepati, wasesa ngugung sakayun, wirasari anembah, leres jeng paduka gusti, lir angandika agraning ri tistheng praja. 16. gusti sepangker paduka, punggawa kekes ngranuhi, rumaos tan darbe gesang, ming memplak memplak ing galih, inggih wetawis mami, mbok menawi boten dangu, rengka nagri mentaram, ningali oyaging jalmi, amyang datan eca nadhah eca nendra. 17. angling pangran Bumidirja, kang mengkana wirasari, lah iya wallahuaklam, kawula nora udani, tan lena pamuji mami, rahayune sang ngaprabu, mengku nagri mentaram, ngaubi kawula wargi, ngemungena manira dhewe cintraka. 18. winurswita jeng pangran, Bumidirja lalu lami, dedalem Kebumen karang, tarak brongta among tani, kasub tinuwi tuwi, wangsul asmanireng dangu, pangran Bumidirja, akathah tiyang babekti, angyaksaken dalem sawetawis gora. 19. rinenggo ing dutya boga, anging jeng pangeran maksih, karemtiti kariya lat, cinipta tumekeng ngakir, umahyaken waweling, yen tembe praptaning surud, mundhut kinubur desa, ing lundhong lan dhatan apti, cinungkuba setya nutugken riyalat. 20. angabehi wirayuda, sakaliyan wirasari, anuwun methal tarukah, jeng pangeran anglilani, weragad den paringi, karya sangu yasa dhukuh, ngidul genirta kentar, ngupaya kang den senengi, ri sampuning manggih nulya lineksanan. 21. yasa dhukuh tuwin pecal, lami dados rengked keksi, kathah lumiring tarukah, tan kirang sandhang bukti, barang tinanem dadi, wang wang katelah ran dhusun, nenggih ing pegandhekan, ewa mangkana gandheki, saben ratri sowan marang desa karang. 22. ubayanireng wardaya, menawi ing tembe lalis, nuwun kinubur ywa tebah, lawan pasareyan gusti, data tita ginupit, jeng pangeran tedhakipun, kang winarna sajuga, jalu tistheng lundhong, desi anguyuni wong desa lundhong mandhala. 23. wit parentahing sudarma, pangran Bumidirja nenggih, kang putra datan kalilan, pasebatan lir priyayi, raden tuwin mas aming, kiyahi sebatanipun, kyai bekel namanya, murih ywa ngeget ngegeti, mung ngesthiya tata pakarti wong desa. 24. saprandene nora kena,tinolak anggeping jalmi, pangabektinya wisuda, mring kyai bekel langkung jrih, angluri linestari, kadya mring kang rama wau, kuneng genti winarna, kanjeng susunan mentawis, sampun mireng, pawartaning sambewara. 25. yen kang paman tistheng tanah, begelen pasti madesi, karang kebumen tinengran, nglugas raga among tani, nulya utusan dasih, kapedhak kalih lumaku, ngaturi ingkang paman, kundur mring nagri mentawis, kang ing ngagya kapedhak ran udakara. 26. surakarti kalihira, sarta pinaringan esthi, nem serati lumaksana, kanang matengga kinardi, titihanya lumaris, kang paman ing badhenipun, kapedhak pinitungkas, angrapusa enggal lilih, wanti wanti dhawuh welinge jeng Sunan. 27. sanggya duta lumaksana, dadya tontonan samargi, tigas umiyat mirada, ing ngenut datan winarni, meh prapta gyaning desi, dhukuh alit wetanipun,esthi ngentu neng dhakah, demang desa den dhawuhi, karya pathok kayu kang kangge wantilan. 28. demang desa gurawalan, nulya ngerigaken kuli, akarya pepathok kekah, sinung wis makaduk inggil, rampung esthi winantil, tan kapinten panganipun, wong wong desa kagawokan, aselur sami ningali, ingkang caket tebih warta winartanan. 29. serati karya pacakan, sarupane wong ningali, tinamtu ambekta klapa, kalih satunggil ing jalmi, artane tigang dhuwit, linarangan yen tan angsun, sangking kadreng umiyat, diradatipun lakoni, yayah pasar wong ningali yel uyelan. 30. demang desa saprabotnya, kinempale jagi esthi, sarta sudhiya sugata, buktine para serati, sekul megana tuwin, wedang saka puranteku, serati senenging tyas, anyeret sarya memacit, merem melek nglegeweh liyangan bantal. 31. kapedhak kalih lumampah, sowan mring karang wus prapti, pinanggihan ing jeng pangran, Bumidirja neng pendhapi, sugata sawetawis, pinapantes traping dhusun, wedang lan palawija, ketela uwi kembili, sawusira palastha liring smirana. 32. udangkara matur nembah, gusti kawula tinuding, putra paduka jeng Sunan, paduka dipun aturi, kundur dhateng mentawis, langkung satistis sinuwun, lan ngaturi titihan, dirada karya lumaris, jeng paduka kering ngalampah kawula. 33. angling pangran Bumidirja, teka susah nganggo esthi, yen tu wis pinareng seba,pira suwene lumaris, lah baliya wong kalih, manira anuwun bendu, Allah during marengna, gampang masalah ing benjing, naming kita nuwun pangestu Narendra. 34. kangnek tyas lalih caraka, puguh pangran Bumidirja, pasthi tan arsa lumiring, gandhek kalih lalu jrih, wangsula dhateng mentarum, tertamtu pinatenan, adat siyasat Nrepati, kanang duta nekad tan purun wangsula. 35. ri sampunya tigang dina, arembag lawan serati, sadaya kinen wangsula, mring mentaram sang ta esthi, ing pangran Bumidirja, samongsa mongsa wus lilih, …… (seratan kabusak/ical) …… kapedhak andherekena. 36. serati nulya budhalan, wangsul mring nagri mentawis, kapedhak wangsul mring karang, angadhep ngarsaning gusti, winarya kang lumaris, kaunjuk Sri Pamaca, purwa madya ameksi, duk miyarsa jeng Susunan arda klana. 37. rumaos tiwas ing kirtya, menggah panjenengan aji, binudi budi tan dadya, rinasa saya ngrinuhi, mupus karsanira ji, tembe sawetara taun, den arsa ngutusana, ngaturi kang paman malih, mangke kendel pinerih meneb wardaya. 38. kocapa kalih kapedhak, udangkara surakarti, anjepeh ngarsa jeng pangran, setya ndherek wakitaki,ing donya prapta akir, jeng pangran ngastuti kayun, among pun udangkara nuwun tarukah pribadi, surakarti sedya angadhep tan pisah. 39. udangkara ngulat ulat, ngetan ngidul tan tebih, wus manggih papan kinarya, anulya dipun yasani, laminya tan ginupit, ri sampune nadyan dhusun, kathah dhusun kapedhak, de tilas mantilan esthi, amyanging wong katlah dhukuh kepathokan. 40. wau ta kang winursita, antara lami alami, pangeran Bumidirja, anggung mredi enir, muhung puwareng tumuwuh, cinekak caritanya, kundur ing rahmatullahi, cinarekan desa lundhong ing ngastana. 41. nora cinungkub sumarma, duk jumeneng wus wewaling, apan naming piniyara, pinacakan juru kunci, dening putra kiyai, bekel kang anyepeng dhusun, rukun tiyang sadaya, pepundhen tineki teki, sumawana gandhek kapedhak mentaram. 42. ajale kinubur uga, neng desa lundhong lestari, tumus susetyane kala, gesange mene sampun apuputra, anama kyai wuragil, kyai ragil putra kyai honggayuda, 43. sayasa ing desa kutho, sudarma eyang wus lalis, wau kyai Honggayuda, linulut tinuwi tuwi, marang sakehing jalmi, tan kirang niskaranipun, wit panjurunging kathah, nging kaetang bangsa alit, ing bangsaning kapriyayen sampun sirna. 44. sinigeg genti winarna, kangjeng susunan mentawis, sayarda angambra ngambra, dera mangugung tyas runtik, worsuh traping widyasthi, sagung punggawa rahuru, wadya lit kaserakat, wimbuh darajating bumi, pra satriya bupatya reh adhedhangkan. 45. pangran dipati taruna, sudibya putra mentawis, siyang latri binabana, mring sagung mantri bupati, pinintaha murwani, karya prang ngrebat kaprabon, lenggahireng sudarma, ywa tanggel margining pati, lalu rindhu pangran dipati taruna. 46. rumaos pragyaning kirtya, putra mengsah lan sudarmi, mangu mangoneng nistuda, tandya minta tuduh maring, kang eyang mahamuni, pangran kajoran dupi wus, rembag saeka praya, ing pened ngangge kekelir, pangrat buta murih ywa kawistara. 47. manggih kelir prang santosa, pan duk pirasat netepi, binatang ngentosi karya, sarta jangkaning negari, rusak nagri mentawis, tarsiwah etanging taun, sang pangeran kajoran, putra mantunya pribadi, Trunajaya sutane demang malaya. 48. yeka pinangka bebuka, kinen ambedhah mentawis, anging cinekak kewala, mung gancare kang ginupit, pangrat buta andadi, gempuran praja mentarum, jeng pangran purubaya, gula agul gri Bupati, prapteng janji kasambut asmareng laga. 49. liya punika akathah, para prawira mentawis, kang pralena madyaning prang, Trunajaya jayeng jurit, sampan kedhiri bali, mekasar prajuritipun, pan wus karsaning suksma, bedhah keratin mentawis, kangjeng Sunan mangkurat tilar prasada. 50. sinengkalan lolosira, sirna ilang rasa jalmi, mangilen arereyongan, garwa atmaja lumiring, jeng pangeran Dipati, anom lan sakadang jalu, pangran arya Singasari, atanapi pangran arya Martasana. 51. wus tebih sangking mentaram, jeng Sunan ngagya keng siwi, pangran Dipati taruna, kinen wangsul ngrebat nagri, mopo kedah lumiring, sudarma satindakipun, wang wang Sri Nata ngatag, pangran puger lan kang rayi, pangran Singasari pangran martasana. 52. wangsula ngrebat negara, titiga sandika sami, pangeran puger seksana, pinaringan wasiyat adi, curiga kang satunggil, maesa nular ranipun, waos ingkang satunggal, kyai palered nami, putra katri nembah budhal saha bala. 53. pangran Dipati taruna, taksih andherek sudarmi, rawuh tanah Ajibarang, jeng Sunan grih prapteng jangji, kundur Rahmatullahi, sinare bumi ganda rum, pratistha tanah tegal, mila katelah sawuri, Sri Mangkurat tegal arum ingkang tengran, 54. sasedanipun jeng Sunan, wang wang jeng pangran Dipati, madeg Narendra neng tegal, martalaya mugareni, mundhut bantu kumpeni, ing eyang tuwan gurnadur, jendral ing Batawiyah, mangun prang ngrebat negari, mengsah Trunajaya cidra ing ngubaya. 55. estu panyiptaning driya, pangran Bumidirja nguni, mila pinelaur linggar, tilar wibaweng praja di, yekti sampun kaling ling, lulungid praja ruhara, rahayuning kraton enir, nerak waler sangker lawiyeng Narendra. 56. wusanane pesthi ana, nahan dharita mangsuli, nenggih kyai Honggayuda, Kuthowinangun winarni, sapta putra winilis, ingkang nenem somah sampun, ranya iwiranana, wismeng jrakah kang pangarsi, nunten jalu ran kyai Honggadiwongsa. 57. ing bunder sayasanira, malih arine pawestri, ranya linalamijaya, wismeng kutha nunten malih, pawestri nama nyai, wirawongsa kang dinunung, desa ing blimbing nulya, ari jalu nama kyai, sutayuda malih pawestri anama. 58. Nyai Surajaya ngambal, sadaya ulah among tani, pangulate tan kirang bukti, rukun ing tyas tar seling, amung putra kang waruju, jalu jaka tumala, pun Sangkrib namanireki, nandhang papa cintraka umageng brangta.

  37. agusti putra

    PUPUH ASMARADANA (3) 1. wauta kijaka sangkrib, kyai Honggayuda putra, nenggih ingkang wuragile, pinanjangken dharitanya, sanggya lalakonira, purwa wasana dhinapur, myang nistha madya utama. 2. cinatur sabilik bilik, kang kelair miwah samar, sanadyan ing sausike, kewala …suksa winewar, susatya ring pandriya, mongka darsana tumuwuh, tumuwuh ing dunya. 3. dening anak putu sami, buyut canggah wareng miwah, dheg udheg gantung siwur, lan sapiturutnya pisan, yogya nguninganana, salir lalakon lulhur, cinatheta kaprayitnan. 4. pendah ywa lingsem ngalkoni, kodra iradating Suksma, ingkang murciteng dhirine, tumerap papa cintraka, lan away girang girang, yen anggonira kadunung, kaharjan singgih astama. 5. jer lagi winayar dening, Allah kang murba misesa, mung ywa lali panrimane, ening tyas sabar tawekal, asih sesama sama, kawula wenang nenuwun, kang murih mulyaning jiwa. 6. krana apsah sangking dalil, subhanahuwatangala, ngudaneni ring titahe, titah kang byakta pamudya, sarta lawan agama, wawajid dawajid dau, sapa temen tinemenan. 7. kosok balike sabilik, sapa cidra cinidranan, wus mengkona ubayane, lah iki goningsun marna, carita kuna kuna, labete para luluhur, tan kenane idoa. 8. dupeh ngong nora ngalami, duk jaman semana iya, pesthi kinira yen goroh, nanging sun ajrih doraa, lan dudu pupulasan, jalaran nggoningsun weruh, ngambil seka tetulisan. 9. wirayat kang swargi swargi, medhar lakone pribadya, ya kang sun gawe wewaton, lamon tan mangkono uga, mangsa kita weruha, mengko sun apus ing tembung, murih padha mangertiya. 10. lakone ki Jaka Sangkrib, liwat nggone kasangsara, sinikang para kadange, nadyan kang rena sudarma, samatra tan ngopreya, marga anggane sakojur, katrapen meh tanpa sela. 11. pating palopor kaeks, getih nanah mara wayan, sing amulut jrih amire, linarang malbeng sayasa,andhelik neng kebonan, sahunggyane lawan turu, trekadhang neng ngandhap pisang. 12. miwah emper kandhang sapi, tanapi emper gedhogan, gumlinting saestha layon, tatkala sinungan boga, binukti aneng britan, jiwa rusak kulu kulu, lirkekere kawistara. 13. langkung denya kawlasasih, tan jamak sasama sama, kabeh kadang pamuwuse, ngilangken andhana juga, dep idep gawe wadal, nadyan lunga mati sukur, aja cedhak menek tular. 14. yen tular ambilaeni, pesthi lamon wurung jalma, wong ngurip dadi kekere, cotho tan bangkit ngupaya, sandhang pangan nang dunya, wong siji kewala amung, nglakoni tan dadi ngapa. 15. datan ta ki jaka sangkrib, siyang dalu monta drasa, tumplek amblek prih atine, limut nora umanon rata, angrasa bosen gesang, mung ngesthi marganing pati, mangunandik wardaya. 16. ya Allah kang maha Suci, kawula nuwun pralena, sampun jejembat wirage, ngantak antak wonten dunya, angentosi punapa, tan manggih seneng sepangu, enggalmantun sirnakena. 17. kawula pan boten bangkit, adamel pejah pribadya, kados pundi puwarane, sanadyan awet gesanga, anggung dados gegujengan, sinikang sanak sedulur, yayah rena karuh mitra. 18. aluwung dinamel mati, sawastu kawula rila, tan wuninga akerate, dados sadhasar neraka, jahanam gih sumongga, mung mangke enggala lampus, payah anandhang cintraka. 19. mangkana ki jaka Sangkrib, saya kagagas karantaka, cipta ameleng tekade, pan naming marganing pejah, ambirat liring boga, nadyan toya nora nginom kinajat nuliya pejah. 20. sarta sedya angoncati, sangking wismaning sudarma, murih ilang kuwatire, yayah rena para kadang, lestariya astama, setyaning tyas pribadya mung, kang angangkat lara lena. 21. ngaler ngilen jaka sangkrib, lingsir ndalu wancinira, tan adoh kendel lampahe, mulat mbeji lir penimpang, toya wening kawuryan, ki jaka nungku neng ngriku, anganyam ayam palastra. 22. trekadhang kungkum ing warih,bakda kungkum nulya minggah, tapa kur munggeng pinggire, ngantak antak minta pejah, lamon ana wong liwata, anggiwar nutupi irung, lumayu balokekan. 23. ki jaka tumungkul nangis, dangu wus tan kambon boga, sariragnya sawang layon, lalu angagra usika, nupi lami antara, nenggih kawandasa dalu, murcita pilal hyang Suksma. 24. ngudaneni kawlasih, wawales tarak subrongta, karaos sarira entheng, perih ngethok linu sirna, ngungun ing tyas ki jaka, mangkana usiking kalbu, iki lah paran sumarma. 25. abeneh rasaning kulit, otot bebalung kepenak, apa ta waras wak ingong, nanging mokal yen waras, ki jaka gya anggrayang, jasade sakojur alus, katrap wus sirna sadaya. 26. dupi byar baskara mijil, surat pranawa katingal, estu wus purna katrape, tilase nora ketara, pra galba soteng jiwa, ki jaka mumudya sukur, pitulung hyang kang murbeng rat. 27. tuwuh nistuda mangesthi, kayatnan sireng dumadya, mangoneng ngeningken panon, menggah rih pambudidaya, kang yowana linakyan, apa kentar apa mantuk, yen malih tanpa paedah. 28. mongsa wurung den ngis engis, sanak kadang kangastama, ujar tan ana tinolah, ora bandha ora pakra, nadyan ana ngropeya, mung anganggep ala nganggur, uripe prasasat kewan. 29. amur ta lunga angaji, ngaji angajap akerat, kadonyan pira lawase, amung sagebyaring kilat, tan langgeng ananira, akherat datan paitung, caritane santri wignya. 30. jan becike ngong angalih, jenenging bocah ngong buwang, salin jeneng tuwa mengko, ki jaka dangu ngupaya, nama ingkang cinarya, binudi tandha wis manggih, peparab surawijaya. 31. nulya kentar sangking beji, ngaler nekuk ngilen nabrang, pasidhatan jog pepereng, pereng wukir bulu sapta, ngaler katiwang tiwang, nurut sapinggiring gunung, marga lit rungkud sinerang. 32. rangu rangu gyan lumaris, de kongsi nedyeng wardaya, ing bojong sari pesantren, nguni wus miyarsa warta, guru ngaji kasudra, ran kyai Mukhamad Yusup, anjenengken pariwara. 33. yeka pinelenging galih, sumuksa ngaji bebadah, Surawijaya tekade, mengo karameyan dunya, angesthi tepet loka, dupi wanci leres bedug, lampahnya tumurun ngetan. 34. umiyat kali wewening, kendel siram ing narmada, sarya masuh kawacane, sinjang rasukan lan dhestar, wit tilasing ngalara, sedangune tan winasuh, mangkyarsa binersihan. 35. busana kaepe tegil, tinunggu kungkum narmada, ri sampun aking sinjange, mentas dandan lumaksana, mengaler ngilen minggah, wukir candhi jati purus, kangsi luk rungkud sinerang. 36. ongga kaborang ri bandhil, kasangsang ing tarulata, salir bebaya tan tinon, darpa ring tyas murwa brangta, riyolat manting raga, sangking kumedah maguru, artine sarak ibadah. 37. wus angancik igir wukir, tumurun wimbaning arga, nusup nusup ngaler ngilen, kali sruni sinabrangan, wong ngadus tinakenan, sanak pundi dalemipun, kyai guru bojong sekar. 38. tinedahken gya lumaris, prenahing pesantren prapta, pinuju lingngih neng suroh, kiyai lagya mumulang, santri angaji kitab, Surawijaya andheku, ing latar ngandhap tritikan. 39. cingak keh santri mangeksi, tiyang ndhodhok ing tritikan, kyai guru lingnya alon, pundi jengandika anak, pun bapa kekilapan, ingkang tinanya lon matur, kawula tiyang ing kitha. 40. pun Surawijaya name, sedya sowan jeng sampeyan, kiyai guru nulya ge, ngacarani kinen minggah, Surawijaya minggah, kaduk tebih linggihnya, ingawe kinen majenga. 41. sawusira majeng linggih, neng kering sang muniwara, kyai guru lingnya alon, anak ngapunten andika, kula dereng kacekap, lan andika imbal wuwus, saweg ewed amumulang. 42. ketanggelan kantun kedhik, anak den sekeca lenggah, umatur sarya ngrerepeh, inggih sumongga sakarsa, nuwun kalajengena, mangkana kiyai guru, nglajengken denya mumulang. 43. kitab usul nahwu tafsir, takarub mantek jur miyah, lapal maknane tineteh, kinetrek tumeka murad, santri keh gantya gantya, lulurah kalih ambandhung, mangsungka kacaryan kang mulat. 44. denya pratela marnani, niskara tembaya kitab, ya ta wau sadangune, Surawijaya myar saksa, makna murad ing santri, kasebut parentah Rasul, miwah dalil kang lawiya. 45. saya sengkud jroning galih, geleng gumolong panyipta, ngibadah pendhenging batos, salir ing reh nora ketang, antara wus palasta, pamulange kyai guru, santri mundur pamondhokan. 46. kiyai guru manggihi, tatamu Surawijaya, gya mijil pasugatane, wedang saka purantinya, nambrama mangun mitra, wecana kyai guru, anak ngong Surawijaya. 47. praptanipun wisma mami, punapa ingkang kinarsan, damel gupita tyas ingong, denten tetigas kawuryan, nedha kajawarnana, Surawijaya umatur, pramila kawula sowan. 48. ngarsa sampeyan sang yogi, rehning kawula punika, angraos kelangkung bodho, dereng pisan sumerapa, lampah sarak ngibadah, kang dados wajib tumuwuh, setyaangaji kawula. 49. nungku ing pesantren ngriki, anuwun barkah piwucal, kiyai manthuk delinge, lah sukur mengkaten anak, inggih sami sarayan, ya ta wau kyai guru, sadangunira tumingal. 50. serandunireng tetami, pinanduk sangking pirasat, myang piyapati pasale, lapli maknawi kawangwang, tuhu manungsa tama, mung during mangsaning tuwuh, ing tembe mangsa wurunga. 51. tansah ngunandikeng galih, iki wong genep petheknya, pinter tur kendel dhasare, pantes mbekakas negara, dudu murwating desa, dungduman santri ya dudu, anulya ris sabdanira. 52. gih anak langkung prayogi, sumuksa ngaji babadah, nungku tumameng pesantren, napa malih ing ngupaya, ngatase tiyang gesang, gih amung talabul ngilmu, ujar kang sampun mupakat. 53. mupakate tiyang santri, prelu pinurih ngupaya, ngilmu kang dadi wajibe, nanging temah kekilapan, ngilmune tan pinanggya, mung angaji muluk muluk, anjajah kehing kitab. 54. lapal makna sehat terkib, yen sampun saged winastan, niku kang wujud ngilmune, sarta sembayange rasa, putus tan malih ngucap, tur niku satemenipun, lan ngilmu dereng benthikan. 55. anak den sabar ring kapti, barang reh aywa kasesa, sisikune kaupados, yen ugi sampun pratela, mangsa wurung ing karsa, nging mangke kendel rumuwun, angayemana sarira. 56. anata nata penggalih, neng ngriki wis makawula, binjing ngampil gampil tiyang ngaos, yen sampun tawajuh ing tyas, wau Surawijaya, nut kersane kyai guru, gya sinung pondhok pribadya. 57. dumunung neng kering panti, ri sampuning tigang dina, sinalinan busanane, kelangkung denira tresna, kyai guru tumingal, wit sangsara semunipun, mila gung winimbasara. 58. tan winarsa kehing santri, lamon bakdanya mumulang, sekssana lenggah karoron, kalawan Surawijaya, seneng imbal wecana, jalaran kiyai guru, Mukhamad Yusup wus wikan. 59. surating maya kaeksi, Surawijaya niscaya, beneh jalma pere pere, pesthi terahing ngutama, sarta sampun kawang wang, pan duk tesmanireng semu, kendel kretarta antepan. 60. ki guru sedyaning kapti, yen pinareng sarta kodrat, yun angurip urip mangke, dhumateng Surawiajaya, alon wijiling sabda, Surawijaya sutengsun, ywa susah kita ngajiya. 61. sinau caraning santri, kaloreyan tanpa wekas, kasep pengarep arepe, umatur Surawijaya, kula sampun miyarsa, kala sampeyan mumuruk, pratela ungeling sastra. 62. kocap preluning ngaurip,. Inggih pinardi ngupaya, ngelmu Islam pamurihe, pramila kula kumedah, ngaos ing pesantrenan, margine talabul ngilmu, lan malih sampun kacetha. 63. salat gangsal wektu wajib, sinten kang tilar duraka, ginanjar bilih linakon, kiyai guru wecana, dhasar mengkaten uga, kitab tan siwah serambut, sangking dalil pasthi apsah. 64. nanging wau kang den eji, dening tiyang saantri kathah, saweg prategali mawon, upama karya wisma, lakar taksih wadungan, lamon tan bangkit angelus, lan ngadon adoni lakar. 65. keh bekakas tanpa dadi, pating jalempah kewala, tangeh yen ngadeg wismane, lah semanten malih kitab, lapal anjaluk loat, loat minta muradipun, murad aminta sarasa. 66. sarasa aminta tretil, tretil punika tatrapan, yen tan bias natrapake, ngajiya kitab sayuta, amung tibeng gilingan, mubeng mubeng temu gathuk, ngibarat bali ngibarat. 67. pundi kang den ngibarati, dadi anggep ngayawara, mengkaten ing salakone, nanging ta santri wus kaprah, mredi wigyaning kitab, kranten milik asilipun, paitan ngupaya boga. 68. lire kadi kula niki, tinub sakathahing jalma, awit sangking pinter ngaos, parentah wong tan kewedan, gampil praptaning boga, napa jengandika ayun, madeg dadi kapruitan. 69. Surawijaya mangsuli, pan inggih kula tan sedya, kepengin dados paguron, cekap kangge piyambak, kyai guru lingira, gih mulane kula tutur, tan susah angaji kitab. 70. dika dede calon santri, dede cecalon sudagar, calon tani inggih dede, pinasthi calon satriya, kapriyayen utama, lamon kongsiya kebintur, pratengkahe santri nistha. 71. pinten kadare wong santri, andum bathi dagang tuna, becik tingkah kapriyayen, brekat mupakat tur babar, mleberi kadang mitra, tumeka satedak turun, menawa dadi jalaran. 72. nanging kangelan sayekti, wong ngurip urip darajat, lara lapa pitukune, sanadyan lara lapaa, yen tumpang sapanyipta, myar pangawruh wowor sumbu, lara lapanira muspra. 73. wurung mukti sida mati, sida tapa wurung tampa, marmane nak ingsung angel, priyayi angulah praja, lan inggih ngulah badan, sami ugi pajunipun, menggah tatraping sarasa. 74. anapon sinau santri, puniku reh lalampudan, sangking tan conggah badane, karya miranti darajat, murih away kapiran, wong ngurip kapiranipun, kurang sandhang kurang pangan. 75. aluwung dadiya santri, dimen pinecraya ing lyan, supaya kandel uripe, lan dadi pangulat ulat, mutawatiri praja, mengakaten sajatinipun, umatur Surawijaya. 76. lamon mengkatena aming, kirang prelu menggah kula, nungku ngaos neng pesantren, pinten warsa warsa talab, kanggone ming kinaryo, ing ngriki mangertosipun, inggih bangsa ngalam donya. 77. mangka niyat kula inggih, ngupados amal akherat, mila yun kumedah ngaos, sapinten lamining dunya, langgeng wonten akherat, criyosipun para kaum, ngupados sangu palastra. 78. kyai guru wecana ris, carita datan pinanggya, angawur awur kimawon, ngaji ngajap ngajap swarga, swarga jaman akherat, akherat bisuk nek lampus, sangking pundi pambidinya. 79. lah mbok rinasa pribadi, kepripun gone amarna, jaman pati luwih elok, lagi marna jaman gesang, kewala tan kacekap, srsn wong cebol anggayuh, lintang mangsa kaleksanan. 80. wong lumpuh arsa ngideri, ing jagat mangsa teles, lunga seeking kang angesod, gumujeng Surawijaya, ing galih nora nduga, ring sabda kyai guru, nanging ta ana empernya. 81. kyai guru angling malih, mungguh babagan akherat, boten kenging cinariyos, pan aming wallahu aklam, Allah kang langkung wikan, dene kang kena rinembug, masalah urip neng dunya. 82. niku kang kula weruhi, marga becik lawan ala, bener luput ing penggawe, awit tingal tiningalan, rasa risi karasa, sumantan tiru tiniru, sami tiyang ngalam dunya. 83. saya kerasa jro galih, Surawijaya miyarsa, kyai guru wirayate, kawula nuwun sumangga, iang sakarsa mrediya, nadyan bentusna ing gunung, jegurena ing samudra. 84. sakit pejah tan gumingsir, lan inggih sampun precaya, ulun lumiring sapangreh, kyai guru wecana, sukur setya ing kula, lah mangke carita ingsun, bongsa gelar myang ngibarat. 85. milane sun ngibarati, jatining makripatullah, tan kena kawruh ambelok, sangking ing netra kapala, amung sangking sarasa, sarasa pangawruh putus, lan sangking dalil nistura. 86. krana santri sami ngaji, amrelu makripatullah, ngiket lan jur pakartine, pu8wara kalunta lunta, kayungyun terkib sakhat, kaliwatan ing pangrungu, ruruba gung kang pinanggya. 87. Surawijaya tur neki, kang mengkaten pariwara, punapa tan nedahake, babaku kang ing ngupaya, temah kalingga nata, wecana kyai guru, yekti guru wus amawas. 88. jembar rupeke kang lagi, ngupaya bisaning basa, tan kenisi nami kang wong, lamon guru boten nimbi, momotaning wawadhah, angger wong bae jinuju, arane wong siya siya. 89. pama cindhil den wenehi, pangane padha lan gajah, mangsa kuwata tutuke, sumawana kadi desa, cilik kanggonan raja, nora mulya malah ajur, milane ngangge timbangan. 90. yen kita yun angawruhi, jejere makripatullah, ingkang samya pinipadon, dunung wiwitan agama, anak langkung prayoga, nanging den awas ing kalbu, sesirikaning makripat. 91. ati linyok ati sakit, katrine ati palastra, lan makripatullah adoh, wijang wijange sun jarwa, ati linyok adarbya, wong kang munapek sedarum, munapek bangsaning khewan. 92. dadine manungsa lapli, khewan maknawi tegesnya, nyata manungsa wujude, ananging pambekan khewan, tangeh wruh kira kira, nyerkutu sumingkir ngurus, dene mungguh ati lara. 93. wong pasek ingkang darbeni, pasek bangsa mina setan, manungsa lapli larane, setan maknawi kawangwang, nyata wujud manungsa, pambekane setan wutuh, karem sasar ambelasar. 94. anapon ran ati mati, wong kapir ingkang kanggona, khewan lan setan bangsane, insane akis kawistara, nyatu wujud manunga, ambek khewan setan juhut, drengki dakwen panastenan. 95. ana dene ingkang sidi, ati tawajuh nisthaya, wong mukmin salih kang duwe, iyeku bongsa mukhamad, ingkang kawawa tampa, sasmitanireng Sukmagung, pracihna makripatullah. 96. yen bisa bengkas ing tyas tri, wruh pembabaring kasidan, lestari trang panuggale, dat kang sumorot ing ngalam, sarta dat kang nistura, ywa andika salah surup, ingngriku kalangkung pragya. 97. lamon sisip nyekuthoni, sotaning dat kang pratistha, yen tan wruh wijang wijange, akeh madeg kapruitan, wejange tuna dungkap, siswane nora anggayuh, jejering dat kang samep. 98. edate loatipun urip, tan catinatrap sarasa, yen mengkana uripa ingong, iku sanyatane Allah, lah iya urip kita, anane dumunung wujud, yen mengkona wujud kita. 99. kanyatahan Maha Suci, mengkoten penganggep salah, sulaya lan pathokane, yekti tan pinanggyeng ngakal, kiyammubin napsiha, Allah jumenenge tamtu, pribadi tan lawan liyan. 100. mummasalah lilkhawadis, prabeda sakeh kang anyar, eh anak den ngatos atos, kaliwat pakiwuh gawat, doning makripatullah, yen uga kabeh rinengkuh, jejer wong kejaba riyah. 101. yen datan ngrasa duweni, niku jejer kadariyah, lamon parengan rengkuhe, dumadya wong mutajilah, Surawijaya myarsa, jedheg kewedan jro kalbu, umatur paran kang yogya. 102. nuwun pamulang kang pasthi, kamantyan limut nistuda, ambebana anggen anggen, kyai guru lon manabda, keh ngibarat trangena, kang tumiba ing pandulu, gandhengen lan budinira.

  38. agusti putra(2)

    PUPUH ASMARADANA (3) 1. wauta kijaka sangkrib, kyai Honggayuda putra, nenggih ingkang wuragile, pinanjangken dharitanya, sanggya lalakonira, purwa wasana dhinapur, myang nistha madya utama. 2. cinatur sabilik bilik, kang kelair miwah samar, sanadyan ing sausike, kewala …suksa winewar, susatya ring pandriya, mongka darsana tumuwuh, tumuwuh ing dunya. 3. dening anak putu sami, buyut canggah wareng miwah, dheg udheg gantung siwur, lan sapiturutnya pisan, yogya nguninganana, salir lalakon lulhur, cinatheta kaprayitnan. 4. pendah ywa lingsem ngalkoni, kodra iradating Suksma, ingkang murciteng dhirine, tumerap papa cintraka, lan away girang girang, yen anggonira kadunung, kaharjan singgih astama. 5. jer lagi winayar dening, Allah kang murba misesa, mung ywa lali panrimane, ening tyas sabar tawekal, asih sesama sama, kawula wenang nenuwun, kang murih mulyaning jiwa. 6. krana apsah sangking dalil, subhanahuwatangala, ngudaneni ring titahe, titah kang byakta pamudya, sarta lawan agama, wawajid dawajid dau, sapa temen tinemenan. 7. kosok balike sabilik, sapa cidra cinidranan, wus mengkona ubayane, lah iki goningsun marna, carita kuna kuna, labete para luluhur, tan kenane idoa. 8. dupeh ngong nora ngalami, duk jaman semana iya, pesthi kinira yen goroh, nanging sun ajrih doraa, lan dudu pupulasan, jalaran nggoningsun weruh, ngambil seka tetulisan. 9. wirayat kang swargi swargi, medhar lakone pribadya, ya kang sun gawe wewaton, lamon tan mangkono uga, mangsa kita weruha, mengko sun apus ing tembung, murih padha mangertiya. 10. lakone ki Jaka Sangkrib, liwat nggone kasangsara, sinikang para kadange, nadyan kang rena sudarma, samatra tan ngopreya, marga anggane sakojur, katrapen meh tanpa sela. 11. pating palopor kaeks, getih nanah mara wayan, sing amulut jrih amire, linarang malbeng sayasa,andhelik neng kebonan, sahunggyane lawan turu, trekadhang neng ngandhap pisang. 12. miwah emper kandhang sapi, tanapi emper gedhogan, gumlinting saestha layon, tatkala sinungan boga, binukti aneng britan, jiwa rusak kulu kulu, lirkekere kawistara. 13. langkung denya kawlasasih, tan jamak sasama sama, kabeh kadang pamuwuse, ngilangken andhana juga, dep idep gawe wadal, nadyan lunga mati sukur, aja cedhak menek tular. 14. yen tular ambilaeni, pesthi lamon wurung jalma, wong ngurip dadi kekere, cotho tan bangkit ngupaya, sandhang pangan nang dunya, wong siji kewala amung, nglakoni tan dadi ngapa. 15. datan ta ki jaka sangkrib, siyang dalu monta drasa, tumplek amblek prih atine, limut nora umanon rata, angrasa bosen gesang, mung ngesthi marganing pati, mangunandik wardaya. 16. ya Allah kang maha Suci, kawula nuwun pralena, sampun jejembat wirage, ngantak antak wonten dunya, angentosi punapa, tan manggih seneng sepangu, enggalmantun sirnakena. 17. kawula pan boten bangkit, adamel pejah pribadya, kados pundi puwarane, sanadyan awet gesanga, anggung dados gegujengan, sinikang sanak sedulur, yayah rena karuh mitra. 18. aluwung dinamel mati, sawastu kawula rila, tan wuninga akerate, dados sadhasar neraka, jahanam gih sumongga, mung mangke enggala lampus, payah anandhang cintraka. 19. mangkana ki jaka Sangkrib, saya kagagas karantaka, cipta ameleng tekade, pan naming marganing pejah, ambirat liring boga, nadyan toya nora nginom kinajat nuliya pejah. 20. sarta sedya angoncati, sangking wismaning sudarma, murih ilang kuwatire, yayah rena para kadang, lestariya astama, setyaning tyas pribadya mung, kang angangkat lara lena. 21. ngaler ngilen jaka sangkrib, lingsir ndalu wancinira, tan adoh kendel lampahe, mulat mbeji lir penimpang, toya wening kawuryan, ki jaka nungku neng ngriku, anganyam ayam palastra. 22. trekadhang kungkum ing warih,bakda kungkum nulya minggah, tapa kur munggeng pinggire, ngantak antak minta pejah, lamon ana wong liwata, anggiwar nutupi irung, lumayu balokekan. 23. ki jaka tumungkul nangis, dangu wus tan kambon boga, sariragnya sawang layon, lalu angagra usika, nupi lami antara, nenggih kawandasa dalu, murcita pilal hyang Suksma. 24. ngudaneni kawlasih, wawales tarak subrongta, karaos sarira entheng, perih ngethok linu sirna, ngungun ing tyas ki jaka, mangkana usiking kalbu, iki lah paran sumarma. 25. abeneh rasaning kulit, otot bebalung kepenak, apa ta waras wak ingong, nanging mokal yen waras, ki jaka gya anggrayang, jasade sakojur alus, katrap wus sirna sadaya. 26. dupi byar baskara mijil, surat pranawa katingal, estu wus purna katrape, tilase nora ketara, pra galba soteng jiwa, ki jaka mumudya sukur, pitulung hyang kang murbeng rat. 27. tuwuh nistuda mangesthi, kayatnan sireng dumadya, mangoneng ngeningken panon, menggah rih pambudidaya, kang yowana linakyan, apa kentar apa mantuk, yen malih tanpa paedah. 28. mongsa wurung den ngis engis, sanak kadang kangastama, ujar tan ana tinolah, ora bandha ora pakra, nadyan ana ngropeya, mung anganggep ala nganggur, uripe prasasat kewan. 29. amur ta lunga angaji, ngaji angajap akerat, kadonyan pira lawase, amung sagebyaring kilat, tan langgeng ananira, akherat datan paitung, caritane santri wignya. 30. jan becike ngong angalih, jenenging bocah ngong buwang, salin jeneng tuwa mengko, ki jaka dangu ngupaya, nama ingkang cinarya, binudi tandha wis manggih, peparab surawijaya. 31. nulya kentar sangking beji, ngaler nekuk ngilen nabrang, pasidhatan jog pepereng, pereng wukir bulu sapta, ngaler katiwang tiwang, nurut sapinggiring gunung, marga lit rungkud sinerang. 32. rangu rangu gyan lumaris, de kongsi nedyeng wardaya, ing bojong sari pesantren, nguni wus miyarsa warta, guru ngaji kasudra, ran kyai Mukhamad Yusup, anjenengken pariwara. 33. yeka pinelenging galih, sumuksa ngaji bebadah, Surawijaya tekade, mengo karameyan dunya, angesthi tepet loka, dupi wanci leres bedug, lampahnya tumurun ngetan. 34. umiyat kali wewening, kendel siram ing narmada, sarya masuh kawacane, sinjang rasukan lan dhestar, wit tilasing ngalara, sedangune tan winasuh, mangkyarsa binersihan. 35. busana kaepe tegil, tinunggu kungkum narmada, ri sampun aking sinjange, mentas dandan lumaksana, mengaler ngilen minggah, wukir candhi jati purus, kangsi luk rungkud sinerang. 36. ongga kaborang ri bandhil, kasangsang ing tarulata, salir bebaya tan tinon, darpa ring tyas murwa brangta, riyolat manting raga, sangking kumedah maguru, artine sarak ibadah. 37. wus angancik igir wukir, tumurun wimbaning arga, nusup nusup ngaler ngilen, kali sruni sinabrangan, wong ngadus tinakenan, sanak pundi dalemipun, kyai guru bojong sekar. 38. tinedahken gya lumaris, prenahing pesantren prapta, pinuju lingngih neng suroh, kiyai lagya mumulang, santri angaji kitab, Surawijaya andheku, ing latar ngandhap tritikan. 39. cingak keh santri mangeksi, tiyang ndhodhok ing tritikan, kyai guru lingnya alon, pundi jengandika anak, pun bapa kekilapan, ingkang tinanya lon matur, kawula tiyang ing kitha. 40. pun Surawijaya name, sedya sowan jeng sampeyan, kiyai guru nulya ge, ngacarani kinen minggah, Surawijaya minggah, kaduk tebih linggihnya, ingawe kinen majenga. 41. sawusira majeng linggih, neng kering sang muniwara, kyai guru lingnya alon, anak ngapunten andika, kula dereng kacekap, lan andika imbal wuwus, saweg ewed amumulang. 42. ketanggelan kantun kedhik, anak den sekeca lenggah, umatur sarya ngrerepeh, inggih sumongga sakarsa, nuwun kalajengena, mangkana kiyai guru, nglajengken denya mumulang. 43. kitab usul nahwu tafsir, takarub mantek jur miyah, lapal maknane tineteh, kinetrek tumeka murad, santri keh gantya gantya, lulurah kalih ambandhung, mangsungka kacaryan kang mulat. 44. denya pratela marnani, niskara tembaya kitab, ya ta wau sadangune, Surawijaya myar saksa, makna murad ing santri, kasebut parentah Rasul, miwah dalil kang lawiya. 45. saya sengkud jroning galih, geleng gumolong panyipta, ngibadah pendhenging batos, salir ing reh nora ketang, antara wus palasta, pamulange kyai guru, santri mundur pamondhokan. 46. kiyai guru manggihi, tatamu Surawijaya, gya mijil pasugatane, wedang saka purantinya, nambrama mangun mitra, wecana kyai guru, anak ngong Surawijaya. 47. praptanipun wisma mami, punapa ingkang kinarsan, damel gupita tyas ingong, denten tetigas kawuryan, nedha kajawarnana, Surawijaya umatur, pramila kawula sowan. 48. ngarsa sampeyan sang yogi, rehning kawula punika, angraos kelangkung bodho, dereng pisan sumerapa, lampah sarak ngibadah, kang dados wajib tumuwuh, setyaangaji kawula. 49. nungku ing pesantren ngriki, anuwun barkah piwucal, kiyai manthuk delinge, lah sukur mengkaten anak, inggih sami sarayan, ya ta wau kyai guru, sadangunira tumingal. 50. serandunireng tetami, pinanduk sangking pirasat, myang piyapati pasale, lapli maknawi kawangwang, tuhu manungsa tama, mung during mangsaning tuwuh, ing tembe mangsa wurunga. 51. tansah ngunandikeng galih, iki wong genep petheknya, pinter tur kendel dhasare, pantes mbekakas negara, dudu murwating desa, dungduman santri ya dudu, anulya ris sabdanira. 52. gih anak langkung prayogi, sumuksa ngaji babadah, nungku tumameng pesantren, napa malih ing ngupaya, ngatase tiyang gesang, gih amung talabul ngilmu, ujar kang sampun mupakat. 53. mupakate tiyang santri, prelu pinurih ngupaya, ngilmu kang dadi wajibe, nanging temah kekilapan, ngilmune tan pinanggya, mung angaji muluk muluk, anjajah kehing kitab. 54. lapal makna sehat terkib, yen sampun saged winastan, niku kang wujud ngilmune, sarta sembayange rasa, putus tan malih ngucap, tur niku satemenipun, lan ngilmu dereng benthikan. 55. anak den sabar ring kapti, barang reh aywa kasesa, sisikune kaupados, yen ugi sampun pratela, mangsa wurung ing karsa, nging mangke kendel rumuwun, angayemana sarira. 56. anata nata penggalih, neng ngriki wis makawula, binjing ngampil gampil tiyang ngaos, yen sampun tawajuh ing tyas, wau Surawijaya, nut kersane kyai guru, gya sinung pondhok pribadya. 57. dumunung neng kering panti, ri sampuning tigang dina, sinalinan busanane, kelangkung denira tresna, kyai guru tumingal, wit sangsara semunipun, mila gung winimbasara. 58. tan winarsa kehing santri, lamon bakdanya mumulang, sekssana lenggah karoron, kalawan Surawijaya, seneng imbal wecana, jalaran kiyai guru, Mukhamad Yusup wus wikan. 59. surating maya kaeksi, Surawijaya niscaya, beneh jalma pere pere, pesthi terahing ngutama, sarta sampun kawang wang, pan duk tesmanireng semu, kendel kretarta antepan. 60. ki guru sedyaning kapti, yen pinareng sarta kodrat, yun angurip urip mangke, dhumateng Surawiajaya, alon wijiling sabda, Surawijaya sutengsun, ywa susah kita ngajiya. 61. sinau caraning santri, kaloreyan tanpa wekas, kasep pengarep arepe, umatur Surawijaya, kula sampun miyarsa, kala sampeyan mumuruk, pratela ungeling sastra. 62. kocap preluning ngaurip,. Inggih pinardi ngupaya, ngelmu Islam pamurihe, pramila kula kumedah, ngaos ing pesantrenan, margine talabul ngilmu, lan malih sampun kacetha. 63. salat gangsal wektu wajib, sinten kang tilar duraka, ginanjar bilih linakon, kiyai guru wecana, dhasar mengkaten uga, kitab tan siwah serambut, sangking dalil pasthi apsah. 64. nanging wau kang den eji, dening tiyang saantri kathah, saweg prategali mawon, upama karya wisma, lakar taksih wadungan, lamon tan bangkit angelus, lan ngadon adoni lakar. 65. keh bekakas tanpa dadi, pating jalempah kewala, tangeh yen ngadeg wismane, lah semanten malih kitab, lapal anjaluk loat, loat minta muradipun, murad aminta sarasa. 66. sarasa aminta tretil, tretil punika tatrapan, yen tan bias natrapake, ngajiya kitab sayuta, amung tibeng gilingan, mubeng mubeng temu gathuk, ngibarat bali ngibarat. 67. pundi kang den ngibarati, dadi anggep ngayawara, mengkaten ing salakone, nanging ta santri wus kaprah, mredi wigyaning kitab, kranten milik asilipun, paitan ngupaya boga. 68. lire kadi kula niki, tinub sakathahing jalma, awit sangking pinter ngaos, parentah wong tan kewedan, gampil praptaning boga, napa jengandika ayun, madeg dadi kapruitan. 69. Surawijaya mangsuli, pan inggih kula tan sedya, kepengin dados paguron, cekap kangge piyambak, kyai guru lingira, gih mulane kula tutur, tan susah angaji kitab. 70. dika dede calon santri, dede cecalon sudagar, calon tani inggih dede, pinasthi calon satriya, kapriyayen utama, lamon kongsiya kebintur, pratengkahe santri nistha. 71. pinten kadare wong santri, andum bathi dagang tuna, becik tingkah kapriyayen, brekat mupakat tur babar, mleberi kadang mitra, tumeka satedak turun, menawa dadi jalaran. 72. nanging kangelan sayekti, wong ngurip urip darajat, lara lapa pitukune, sanadyan lara lapaa, yen tumpang sapanyipta, myar pangawruh wowor sumbu, lara lapanira muspra. 73. wurung mukti sida mati, sida tapa wurung tampa, marmane nak ingsung angel, priyayi angulah praja, lan inggih ngulah badan, sami ugi pajunipun, menggah tatraping sarasa. 74. anapon sinau santri, puniku reh lalampudan, sangking tan conggah badane, karya miranti darajat, murih away kapiran, wong ngurip kapiranipun, kurang sandhang kurang pangan. 75. aluwung dadiya santri, dimen pinecraya ing lyan, supaya kandel uripe, lan dadi pangulat ulat, mutawatiri praja, mengakaten sajatinipun, umatur Surawijaya. 76. lamon mengkatena aming, kirang prelu menggah kula, nungku ngaos neng pesantren, pinten warsa warsa talab, kanggone ming kinaryo, ing ngriki mangertosipun, inggih bangsa ngalam donya. 77. mangka niyat kula inggih, ngupados amal akherat, mila yun kumedah ngaos, sapinten lamining dunya, langgeng wonten akherat, criyosipun para kaum, ngupados sangu palastra. 78. kyai guru wecana ris, carita datan pinanggya, angawur awur kimawon, ngaji ngajap ngajap swarga, swarga jaman akherat, akherat bisuk nek lampus, sangking pundi pambidinya. 79. lah mbok rinasa pribadi, kepripun gone amarna, jaman pati luwih elok, lagi marna jaman gesang, kewala tan kacekap, srsn wong cebol anggayuh, lintang mangsa kaleksanan. 80. wong lumpuh arsa ngideri, ing jagat mangsa teles, lunga seeking kang angesod, gumujeng Surawijaya, ing galih nora nduga, ring sabda kyai guru, nanging ta ana empernya. 81. kyai guru angling malih, mungguh babagan akherat, boten kenging cinariyos, pan aming wallahu aklam, Allah kang langkung wikan, dene kang kena rinembug, masalah urip neng dunya. 82. niku kang kula weruhi, marga becik lawan ala, bener luput ing penggawe, awit tingal tiningalan, rasa risi karasa, sumantan tiru tiniru, sami tiyang ngalam dunya. 83. saya kerasa jro galih, Surawijaya miyarsa, kyai guru wirayate, kawula nuwun sumangga, iang sakarsa mrediya, nadyan bentusna ing gunung, jegurena ing samudra. 84. sakit pejah tan gumingsir, lan inggih sampun precaya, ulun lumiring sapangreh, kyai guru wecana, sukur setya ing kula, lah mangke carita ingsun, bongsa gelar myang ngibarat. 85. milane sun ngibarati, jatining makripatullah, tan kena kawruh ambelok, sangking ing netra kapala, amung sangking sarasa, sarasa pangawruh putus, lan sangking dalil nistura. 86. krana santri sami ngaji, amrelu makripatullah, ngiket lan jur pakartine, pu8wara kalunta lunta, kayungyun terkib sakhat, kaliwatan ing pangrungu, ruruba gung kang pinanggya. 87. Surawijaya tur neki, kang mengkaten pariwara, punapa tan nedahake, babaku kang ing ngupaya, temah kalingga nata, wecana kyai guru, yekti guru wus amawas. 88. jembar rupeke kang lagi, ngupaya bisaning basa, tan kenisi nami kang wong, lamon guru boten nimbi, momotaning wawadhah, angger wong bae jinuju, arane wong siya siya. 89. pama cindhil den wenehi, pangane padha lan gajah, mangsa kuwata tutuke, sumawana kadi desa, cilik kanggonan raja, nora mulya malah ajur, milane ngangge timbangan. 90. yen kita yun angawruhi, jejere makripatullah, ingkang samya pinipadon, dunung wiwitan agama, anak langkung prayoga, nanging den awas ing kalbu, sesirikaning makripat. 91. ati linyok ati sakit, katrine ati palastra, lan makripatullah adoh, wijang wijange sun jarwa, ati linyok adarbya, wong kang munapek sedarum, munapek bangsaning khewan. 92. dadine manungsa lapli, khewan maknawi tegesnya, nyata manungsa wujude, ananging pambekan khewan, tangeh wruh kira kira, nyerkutu sumingkir ngurus, dene mungguh ati lara. 93. wong pasek ingkang darbeni, pasek bangsa mina setan, manungsa lapli larane, setan maknawi kawangwang, nyata wujud manungsa, pambekane setan wutuh, karem sasar ambelasar. 94. anapon ran ati mati, wong kapir ingkang kanggona, khewan lan setan bangsane, insane akis kawistara, nyatu wujud manunga, ambek khewan setan juhut, drengki dakwen panastenan. 95. ana dene ingkang sidi, ati tawajuh nisthaya, wong mukmin salih kang duwe, iyeku bongsa mukhamad, ingkang kawawa tampa, sasmitanireng Sukmagung, pracihna makripatullah. 96. yen bisa bengkas ing tyas tri, wruh pembabaring kasidan, lestari trang panuggale, dat kang sumorot ing ngalam, sarta dat kang nistura, ywa andika salah surup, ingngriku kalangkung pragya. 97. lamon sisip nyekuthoni, sotaning dat kang pratistha, yen tan wruh wijang wijange, akeh madeg kapruitan, wejange tuna dungkap, siswane nora anggayuh, jejering dat kang samep. 98. edate loatipun urip, tan catinatrap sarasa, yen mengkana uripa ingong, iku sanyatane Allah, lah iya urip kita, anane dumunung wujud, yen mengkona wujud kita. 99. kanyatahan Maha Suci, mengkoten penganggep salah, sulaya lan pathokane, yekti tan pinanggyeng ngakal, kiyammubin napsiha, Allah jumenenge tamtu, pribadi tan lawan liyan. 100. mummasalah lilkhawadis, prabeda sakeh kang anyar, eh anak den ngatos atos, kaliwat pakiwuh gawat, doning makripatullah, yen uga kabeh rinengkuh, jejer wong kejaba riyah. 101. yen datan ngrasa duweni, niku jejer kadariyah, lamon parengan rengkuhe, dumadya wong mutajilah, Surawijaya myarsa, jedheg kewedan jro kalbu, umatur paran kang yogya. 102. nuwun pamulang kang pasthi, kamantyan limut nistuda, ambebana anggen anggen, kyai guru lon manabda, keh ngibarat trangena, kang tumiba ing pandulu, gandhengen lan budinira.

  39. agusti putra(3)

    PUPUH MEGATRUH (4) 1. samantuke bujang nora tutur tutur, sinamar ajrih menawi, kang nglewat tumekeng lampus, mbok dadi seksi prekawis, mengkana ciptaning batos. 2. nadyan mati jer karepe pribadyeku, inyong mung darma nuruti, angger aja na wong weruh, mongsa ta inyong ti…narik, kuneng ingkang winiraos. 3. wau Surawijaya kang ngajab lampus, tapa ngluwat jroning bumi, pejuritan gyaning dhusun, estu datan malih kapti, tekad anggeleng gumolong. 4. anglanglangi wilangan lingling wulangun, nguni pariwara sangking, kyai Mukhamad yusup, lan kyai jaiman warsit, tinemen ngluwes suraos. 5. ya sarasa ngusakara kara murub, kang rumarab ngirib irib, rurupan bang reng pingul, kundhi kuning pinanduk kenapi, tegese brastha tan tinon. 6. krana rusak mungguh saka kehing luk, amung wajahe ywang widi, langgeng ing kahananipun, iyeka isbat kinesthi, enir paningal pasal ro. 7. jroning ngurip lir panjutaba swareku, tistheng kundha gedhah rempid, datan kanginan sapangu, sayekti datan maletik, wisuda denya mencorong. 8. pencoronge amandeng wajibul wujud, byukta pamejang rumiyin, kyai Mukhamad yusuf, atarkumusiwalahi, illalah panuksmaning den. 9. dupi sampuning sal tri dasa nem dalu, pitulunging ywang mranani, pracihna bawa tumanduk, mring sujalma kang darbeni, pomahan sinasmita non. 10. swara sidi murcita jroning ngaturu, eh eling eling den eling, nalagati yen sira yun, ilang nggonira asakit, entasen jalma kang ngandon. 11. nglawat aneng karangmu sasirih kidul, ngingsor bendha ageng inggil, wimba saranen satuhu, dadi serana usadi, purna jiwa anak bojo. 12. nalagati kaget tangi tyas gegetun, apa ta andara dasih, sajroning turu ngong krungu, swara pitutur dumeling, ing kono kidul ana wong. 13. tapa ngluwat dak delenge alanganggur, sukur yen temen kang kempi, baya pitulung ywang agung, menawa iya sayekti, ketara sariraning ngong. 14. ngrasa entheng kyai naladipa gupuh, dandan pacule cinangking, lendhang lendhang kesah ngidul, ngingsor wreksa bendha prapti, ana siti anyar katon. 15. kang kinaryo ngurugi luwang wus temtu, bungah kyai Nalagati, andara dasih impenku, nulya urug urugan siti, binuwang wonten sayektos. 16. jalma siki angluwat tinon wus layu, sawang layon wondha putih, Nalagati lon matur, shuh sang mangun tarak brangti, lilanana sarira ngong. 17. yun mondhonge sampyan kula bekta mantuk, mring wisma kawula inggih, lan boten niyat cipta dur, ming sangking mirma ningali, menawi kelajeng layon. 18. sawusira matur gya ingangkat mantuk, sinarekaken aririh, ing amben sayana alus, kajang sirahnya rumanti, datan usik sang wirangrong. 19. nulya kinutugan kukus sekul biru, lathi kinecer jruk bayi, palaling ywang dangu dangu, purneng bayu wus bisa sik, sang tapa gya lenggah alon. 20. Nalagati sanalika sakitipun, waras lan saanak rabi, samya ngadhep munggeng ngayun, Surawijaya ngling aris, paman lir paran kang wados. 21. mangke badan neng ngriki dumunung, lan paman sinten kang nami, alon denira umatur, kawula pun Nalagati, pemahan ngriki kang manggon. 22. nuwun pirsa sampeyan sinten jujuluk, nauri kula tyang miskin, Surawijaya nganingsun, ambelayar tanpa panti, ngupaya marganing layon. 23. ngasih asih nalagati aturipun, angger sampun ngajap lalis, limrahing titah tumuwuh, nandhang papa sawetawis, menawi karya panyepo. 24. sinten priksa kamulyan tembe pinangguh, mila sayogya ginalih, kang amurih reh rehayu, pinuwun kawula mangkin, wontena ngriki kimawon. 25. amulihken sarira ing risakipun, sakadar kula tyang alit, sakuwaos kados gaclug, ngladosi saka puranti, kamirahan ywang sukmanon. 26. lamon sampun purna sumongga sakayun, kawula jumurung puji, Surawijaya ngling arum, gih paman tarima mami, kawlasan dika maring ngong. 27. moga Allah paring wales tyas kang tuhu, karahayon ngawal akhir, luwih kapaotangan ingsun, gih pinten bara ing benjing, bisa mangsulken tyas batos. 28. ya ta lami Surawijaya dumunung, pejuritan ngusadani, risake sariranipun, nalagati jalu estri, sanget nggenira gumatos. 29. winursita kalih condra pulih sampun, sarira seksana amit, akarsa nutugen laku, nalagati managastuti, sarta ngaturi pisangon. 30. werni karan winadhahan usus usus, kolor saruwal rumanti, manis jangan tunggilipun, kayu legine sakedhik, saruwal sigra ing nganggo. 31. nulya mangkat Surawijaya lumaku, mangilen angambah tegil, tindakira kapirangu, yatneng tresna nalagati, ngungut sanget ing gumatos. 32. nekuk ngidul anjog kisik samudra gung, setya dereng niat mulih, mring kutha sayaseng dangu, kacaryan reh ta kitaki, tumutur telenging batos. 33. malak mandar wimbuh ardanireng kayun, sumuksa mertapeng wukir, sedene gutho kasamun, mangayu bagyanig budi, dadiya lena linakon. 34. nurut kisik mangilen lumampah darung, ngemut karag tomba salit, surating baskara mepu, wanci madya lir gesangi, sangsareng jiwa tan tinon. 35. langkung denya amemati raganipun, wus liwat ing cingcing guling, trus pasthi maminggah gunung, anrang pringga wukir kancik, kathah kapranggul buburon. 36. sato wana anggiwar tan ana ganggu, sarpa lodra jalu jalu, kapethuk nyimpang lumayu, mong bantheng menjangan kancil, katerak malumpat bekos. 37. yen kaleson reren sangisor wreksa gung, yen arip turu gumlinting, ngangge karang ngulu watu, jroning tyas cinipta guling, sanengti lampus pakaot. 38. sota nikmat mahywa panarima mungguh, tangi turu gya lumaris, tan ngangge milih delanggung, nasak wit saparan sikil, mungguh tumurun jurang jro. 39. murang marga angambah kang siluk siluk, kesangsang sangsang penjalin, tarwiyang tansaya wimbuh, giranging tyas tandu ngancik, laladan ing karang bolong. 40. kehing guwa guwa den ungak sedarum, tan ana den kasenengi, karya asrama manungku, de guwa ngungkung udadi, dedalane gawat elok. 41. guwa karangbolong writ angker kelangkung, keh durbiksa mrih durniti, gegodha memurung tuwuh, yen wantah sayekti baring, binabidhung ing gendruwo. 42. rehayune keneng mala budheg bisu, suwung ati tuna budi, badan kurus weteng busung, bosok kulit daging mamring, kari tulang dadi jrangkong. 43. nanging mungguh manungsakang ingsi ngelmu, ngelmu makripatullahi, dhasar nistuda tawajuh, binusanan tarak brangti, tarbukeng tyas waskitheng don. 44. sinung kalis durmalaning setan juhud, sasedyanira lestari, prabawa bakuh tumangguh, was ketir ketir swwuh enir, nerak pringga baya wutoh. 45. lajeng denya lumaksana alas rungkud, ing blang konang den unggahi, dangu lumingling mangkya wruh, guthoko jro tinon dani, wenimbuken kencana los. PUPUH MASKUMAMBANG (5) 1. aran guwa menganti sinawang edi, wiwara bawera, anulya dipun lebeti, margane rumpil kabina. 2. pan tinurut ginagap gagap ing sikil, lelumut kumeclap, kadi tan bangkit lumaris, padhas dhedasaring marga. 3. sanalika Surawijaya manganggit, darpa nrak babaya, yen wania maring gampil, jrih angel wurung panyipta. 4. esthining reh sngel atanapi gampil, kaantep sajuga, ing purwa punapi, jer kita kang bedakena. 5. dadya saya sengkud denira lumaris, rarasing pandriya, binudi dadya mranani, malar mimbuhi subadya. 6. wusing prapta jro guthoka amiyarsi, ywah amara wayan, nanging ta datan kaeksi, sangking limut lamat lamat. 7. mung pengrasa kang karasa mracihnani, nian sidyanira, Surawijaya mertapi, munggeng sela sumayana. 8. tapa linggih amadhep karseng suksmadi, asta kering kanan, tumumpang ring pupu kalih, mresing tyas anglebur rasa. 9. iya rasa kang angraras asma kalih, kang purwita jasad, linebur kinarya urip, uripe linebur mongka. 10. rasa prelu tandya linebur kinardi, susmaya samepa, susmaya linebur dadi, jisim latip kang lawiya. 11. ri sampunya geleng gumolong pangesthi, wa gyut ngalad alad, surating dat angebeki, subadya amot wasesa. 12. jro wisesa amot ing purba sejati, Surawijaya trang, titika sabilik bilik, tarbuka ning matyastama. 13. kuneng ingkang lagya ngeningken pangeksi, neges karsaning sang, dumunung guwa menganti, mangke mangsuli carita. 14. duk nalika pangran puger lan kang rayi, pangran Martasana, miwah pangran Singasarri, kairing sawadya bala. 15. wangsulipun sangking tanah tirta rukmi, tinuduh sudarma, ngrebat negari mentawis, mengsah lawan Trunajaya. 16. ing pasisir kidul ingkang den margani, saben mesanggrahan, narubken para ngabei, lan patinggi desa desa. 17. sowan sarta sudhiya kartala jurit, rumojong karya prang, sanggen mesanggrahan gusti, saos saos sanaos wega. 18. dupi lajeng mangetan wong agung katri, patinggi ing ngagya, binage bage karyeki, ana kalane binekta. 19. lajeng ngetan kang badhe ing ngaben jurit, saweneh tinilar, kinen sami pacak baris, patinggi desa kerigan. 20. ya ta wau pangran puger lan kang rayi, kendel mesanggrahan, neng desa wawar pasisir, ing wismane wreganaya. 21. kang nguyuni wong desa wawar pasisir, demang wreganaya, keringan macapat jalmi, jalaran daya berbudaya. 22. kanan kering patinggi samya suwiwi, marang desa wawar, sumambita ngarseng gusti, samekta busananing prang. 23. sapta dina denya mesanggrahan nenggih, ngabei kerigan, tanapi para taruni, kang wanter maju pakaryan. 24. jeng pangeran puger milihi sujalmi, ingkang winursita, ki Honggayuda semangkin, ing kutho pinuju lagya. 25. tilik dhateng desa wawar krana dening, Honggayuda dadya, suta mantune pangarsi, kyai demang wreganaya. 26. jeng pangeran puger uninga langkung sih, andangu mring demang, werganaya sapa iki, kang ngladeni saben dina. 27. marang ingsun tapsilaning luwih becik, werganaya nembah, gih punika mantu siwi, Honggayuda dhusun kitho. 28 pangran angling iya mantunira iki, cekel gawe apa, werganaya angot sari, dereng cepeng pendamelan. 29. wonten kitho aming inggihnya nyepahi, ing mitra wangsanya, jeng pangeran gya nimbali, Honggayuda sowan ngarsa. 30. ngandika rum eh Honggayuda semangkin, wit parentah ingwang, sira dadia patinggi, anyekela desa kutho. 31. sarta desa sakiwa tengene ugi, kang nyekel prentahan, sira ingkang mituwani, iki sun paring tondha. 32. ora susah sira ndherek laku mami, becik bali kutho, ing kana pacak baris, tarubena wong ing desa. 33. tandya sujud Honggayuda awot sari, pukulun sandika, amundhi sabda jeng gusti, jeng pangran gya budhal ngetan. 34. Honggayuda wangsul mring kutho wismeki, natrapken parentah, gancanging carita uwis, ambwah disa sadesa. 35. amung cacad jro jaman dahuru maksih, esuking ngesukan, singa kang rosa pakolih, desa kathah tetukaran. 36. mene gancaraken terahing mentawis, sang sunan mangkurat, kang madeg prabu ing tegil, ing budhalipun mangetan. 37. pasisir ler wau ingkang den wiyosi, kedhiri jog ira, anglarag Trunajayeki, reroncene tan winarna. 38. amung mendhet gancare ingkang kinawi, tempuh ing ngayun, trunajaya wis kajodhi, nagri mentaram kapegat. 39. jeng susunan mangkurat tandya nglenggahi, prasada mentaram, nguyuni kang rayi rayi, nagri arja karti karta. 40. wang wang kraton pindhah sangking ing mentawis, nenggih kartasura, semangke prasadanaji, tulus panjenengan Nata. 41. ri sampune surud kanjeng Sri Bupati, mangkurat ginantyan, ing putra pangran Dipati, juluk Sunan Mangkurat Mas. 42. datan lama jalaran selir widyasthi, karaton ginantyan, dening kang paman sudarmi, jeng pangran puger sudibya. 43. jenengipun sae kapraya kumpeni, kasub kaoningrat, jujuluke Narapati, jeng sunan mengku buwana. 44. pan sinigeg mangke carita mangsuli, kang amanting jiwa, tapa neng guwa menganti, tan kawruhan laminira. 45. krana sangking peteng tan wruh rina wengi, marmaning ywang suksma, kang ngasipat rahman rakhim, ngudaneni setyaning tyas. 46. jroning karna yayah lir kadi pinetik, Surawijayenggal, yatna ring sawiji wiji, panaul pan wus luwar. 47. ngungun astanira anggegem cumethi, tinurut ginrayang, satuhu wonda penjalin, laras sotaning sarkara.
    (BERSAMBUNG)

  40. agusti putra(4)

    sebagai catatan, naskah yang saya miliki memiliki halaman yang sangat banyak, namun sayang kondisi naskah sudah demikian rusak dan hanya tersisa (yang ada pada saya) hingga halaman 500’an dan alhamdulillah sudah selesai saya transliterasi sejak tahun 2005. Jenis kertas bukan watermark kurang tau jenis kertasnya apa karena kebetulan saya tidak begitu paham dengan berbagai jenis kertas untuk mengukur usia naskah tersebut.
    Mohon masukannya. Terimakasih.

  41. agusti putra(3)

    PUPUH MEGATRUH (4) 1. samantuke bujang nora tutur tutur, sinamar ajrih menawi, kang nglewat tumekeng lampus, mbok dadi seksi prekawis, mengkana ciptaning batos. 2. nadyan mati jer karepe pribadyeku, inyong mung darma nuruti, angger aja na wong weruh, mongsa ta inyong ti…narik, kuneng ingkang winiraos. 3. wau Surawijaya kang ngajab lampus, tapa ngluwat jroning bumi, pejuritan gyaning dhusun, estu datan malih kapti, tekad anggeleng gumolong. 4. anglanglangi wilangan lingling wulangun, nguni pariwara sangking, kyai Mukhamad yusup, lan kyai jaiman warsit, tinemen ngluwes suraos. 5. ya sarasa ngusakara kara murub, kang rumarab ngirib irib, rurupan bang reng pingul, kundhi kuning pinanduk kenapi, tegese brastha tan tinon. 6. krana rusak mungguh saka kehing luk, amung wajahe ywang widi, langgeng ing kahananipun, iyeka isbat kinesthi, enir paningal pasal ro. 7. jroning ngurip lir panjutaba swareku, tistheng kundha gedhah rempid, datan kanginan sapangu, sayekti datan maletik, wisuda denya mencorong. 8. pencoronge amandeng wajibul wujud, byukta pamejang rumiyin, kyai Mukhamad yusuf, atarkumusiwalahi, illalah panuksmaning den. 9. dupi sampuning sal tri dasa nem dalu, pitulunging ywang mranani, pracihna bawa tumanduk, mring sujalma kang darbeni, pomahan sinasmita non. 10. swara sidi murcita jroning ngaturu, eh eling eling den eling, nalagati yen sira yun, ilang nggonira asakit, entasen jalma kang ngandon. 11. nglawat aneng karangmu sasirih kidul, ngingsor bendha ageng inggil, wimba saranen satuhu, dadi serana usadi, purna jiwa anak bojo. 12. nalagati kaget tangi tyas gegetun, apa ta andara dasih, sajroning turu ngong krungu, swara pitutur dumeling, ing kono kidul ana wong. 13. tapa ngluwat dak delenge alanganggur, sukur yen temen kang kempi, baya pitulung ywang agung, menawa iya sayekti, ketara sariraning ngong. 14. ngrasa entheng kyai naladipa gupuh, dandan pacule cinangking, lendhang lendhang kesah ngidul, ngingsor wreksa bendha prapti, ana siti anyar katon. 15. kang kinaryo ngurugi luwang wus temtu, bungah kyai Nalagati, andara dasih impenku, nulya urug urugan siti, binuwang wonten sayektos. 16. jalma siki angluwat tinon wus layu, sawang layon wondha putih, Nalagati lon matur, shuh sang mangun tarak brangti, lilanana sarira ngong. 17. yun mondhonge sampyan kula bekta mantuk, mring wisma kawula inggih, lan boten niyat cipta dur, ming sangking mirma ningali, menawi kelajeng layon. 18. sawusira matur gya ingangkat mantuk, sinarekaken aririh, ing amben sayana alus, kajang sirahnya rumanti, datan usik sang wirangrong. 19. nulya kinutugan kukus sekul biru, lathi kinecer jruk bayi, palaling ywang dangu dangu, purneng bayu wus bisa sik, sang tapa gya lenggah alon. 20. Nalagati sanalika sakitipun, waras lan saanak rabi, samya ngadhep munggeng ngayun, Surawijaya ngling aris, paman lir paran kang wados. 21. mangke badan neng ngriki dumunung, lan paman sinten kang nami, alon denira umatur, kawula pun Nalagati, pemahan ngriki kang manggon. 22. nuwun pirsa sampeyan sinten jujuluk, nauri kula tyang miskin, Surawijaya nganingsun, ambelayar tanpa panti, ngupaya marganing layon. 23. ngasih asih nalagati aturipun, angger sampun ngajap lalis, limrahing titah tumuwuh, nandhang papa sawetawis, menawi karya panyepo. 24. sinten priksa kamulyan tembe pinangguh, mila sayogya ginalih, kang amurih reh rehayu, pinuwun kawula mangkin, wontena ngriki kimawon. 25. amulihken sarira ing risakipun, sakadar kula tyang alit, sakuwaos kados gaclug, ngladosi saka puranti, kamirahan ywang sukmanon. 26. lamon sampun purna sumongga sakayun, kawula jumurung puji, Surawijaya ngling arum, gih paman tarima mami, kawlasan dika maring ngong. 27. moga Allah paring wales tyas kang tuhu, karahayon ngawal akhir, luwih kapaotangan ingsun, gih pinten bara ing benjing, bisa mangsulken tyas batos. 28. ya ta lami Surawijaya dumunung, pejuritan ngusadani, risake sariranipun, nalagati jalu estri, sanget nggenira gumatos. 29. winursita kalih condra pulih sampun, sarira seksana amit, akarsa nutugen laku, nalagati managastuti, sarta ngaturi pisangon. 30. werni karan winadhahan usus usus, kolor saruwal rumanti, manis jangan tunggilipun, kayu legine sakedhik, saruwal sigra ing nganggo. 31. nulya mangkat Surawijaya lumaku, mangilen angambah tegil, tindakira kapirangu, yatneng tresna nalagati, ngungut sanget ing gumatos. 32. nekuk ngidul anjog kisik samudra gung, setya dereng niat mulih, mring kutha sayaseng dangu, kacaryan reh ta kitaki, tumutur telenging batos. 33. malak mandar wimbuh ardanireng kayun, sumuksa mertapeng wukir, sedene gutho kasamun, mangayu bagyanig budi, dadiya lena linakon. 34. nurut kisik mangilen lumampah darung, ngemut karag tomba salit, surating baskara mepu, wanci madya lir gesangi, sangsareng jiwa tan tinon. 35. langkung denya amemati raganipun, wus liwat ing cingcing guling, trus pasthi maminggah gunung, anrang pringga wukir kancik, kathah kapranggul buburon. 36. sato wana anggiwar tan ana ganggu, sarpa lodra jalu jalu, kapethuk nyimpang lumayu, mong bantheng menjangan kancil, katerak malumpat bekos. 37. yen kaleson reren sangisor wreksa gung, yen arip turu gumlinting, ngangge karang ngulu watu, jroning tyas cinipta guling, sanengti lampus pakaot. 38. sota nikmat mahywa panarima mungguh, tangi turu gya lumaris, tan ngangge milih delanggung, nasak wit saparan sikil, mungguh tumurun jurang jro. 39. murang marga angambah kang siluk siluk, kesangsang sangsang penjalin, tarwiyang tansaya wimbuh, giranging tyas tandu ngancik, laladan ing karang bolong. 40. kehing guwa guwa den ungak sedarum, tan ana den kasenengi, karya asrama manungku, de guwa ngungkung udadi, dedalane gawat elok. 41. guwa karangbolong writ angker kelangkung, keh durbiksa mrih durniti, gegodha memurung tuwuh, yen wantah sayekti baring, binabidhung ing gendruwo. 42. rehayune keneng mala budheg bisu, suwung ati tuna budi, badan kurus weteng busung, bosok kulit daging mamring, kari tulang dadi jrangkong. 43. nanging mungguh manungsakang ingsi ngelmu, ngelmu makripatullahi, dhasar nistuda tawajuh, binusanan tarak brangti, tarbukeng tyas waskitheng don. 44. sinung kalis durmalaning setan juhud, sasedyanira lestari, prabawa bakuh tumangguh, was ketir ketir swwuh enir, nerak pringga baya wutoh. 45. lajeng denya lumaksana alas rungkud, ing blang konang den unggahi, dangu lumingling mangkya wruh, guthoko jro tinon dani, wenimbuken kencana los. PUPUH MASKUMAMBANG (5) 1. aran guwa menganti sinawang edi, wiwara bawera, anulya dipun lebeti, margane rumpil kabina. 2. pan tinurut ginagap gagap ing sikil, lelumut kumeclap, kadi tan bangkit lumaris, padhas dhedasaring marga. 3. sanalika Surawijaya manganggit, darpa nrak babaya, yen wania maring gampil, jrih angel wurung panyipta. 4. esthining reh sngel atanapi gampil, kaantep sajuga, ing purwa punapi, jer kita kang bedakena. 5. dadya saya sengkud denira lumaris, rarasing pandriya, binudi dadya mranani, malar mimbuhi subadya. 6. wusing prapta jro guthoka amiyarsi, ywah amara wayan, nanging ta datan kaeksi, sangking limut lamat lamat. 7. mung pengrasa kang karasa mracihnani, nian sidyanira, Surawijaya mertapi, munggeng sela sumayana. 8. tapa linggih amadhep karseng suksmadi, asta kering kanan, tumumpang ring pupu kalih, mresing tyas anglebur rasa. 9. iya rasa kang angraras asma kalih, kang purwita jasad, linebur kinarya urip, uripe linebur mongka. 10. rasa prelu tandya linebur kinardi, susmaya samepa, susmaya linebur dadi, jisim latip kang lawiya. 11. ri sampunya geleng gumolong pangesthi, wa gyut ngalad alad, surating dat angebeki, subadya amot wasesa. 12. jro wisesa amot ing purba sejati, Surawijaya trang, titika sabilik bilik, tarbuka ning matyastama. 13. kuneng ingkang lagya ngeningken pangeksi, neges karsaning sang, dumunung guwa menganti, mangke mangsuli carita. 14. duk nalika pangran puger lan kang rayi, pangran Martasana, miwah pangran Singasarri, kairing sawadya bala. 15. wangsulipun sangking tanah tirta rukmi, tinuduh sudarma, ngrebat negari mentawis, mengsah lawan Trunajaya. 16. ing pasisir kidul ingkang den margani, saben mesanggrahan, narubken para ngabei, lan patinggi desa desa. 17. sowan sarta sudhiya kartala jurit, rumojong karya prang, sanggen mesanggrahan gusti, saos saos sanaos wega. 18. dupi lajeng mangetan wong agung katri, patinggi ing ngagya, binage bage karyeki, ana kalane binekta. 19. lajeng ngetan kang badhe ing ngaben jurit, saweneh tinilar, kinen sami pacak baris, patinggi desa kerigan. 20. ya ta wau pangran puger lan kang rayi, kendel mesanggrahan, neng desa wawar pasisir, ing wismane wreganaya. 21. kang nguyuni wong desa wawar pasisir, demang wreganaya, keringan macapat jalmi, jalaran daya berbudaya. 22. kanan kering patinggi samya suwiwi, marang desa wawar, sumambita ngarseng gusti, samekta busananing prang. 23. sapta dina denya mesanggrahan nenggih, ngabei kerigan, tanapi para taruni, kang wanter maju pakaryan. 24. jeng pangeran puger milihi sujalmi, ingkang winursita, ki Honggayuda semangkin, ing kutho pinuju lagya. 25. tilik dhateng desa wawar krana dening, Honggayuda dadya, suta mantune pangarsi, kyai demang wreganaya. 26. jeng pangeran puger uninga langkung sih, andangu mring demang, werganaya sapa iki, kang ngladeni saben dina. 27. marang ingsun tapsilaning luwih becik, werganaya nembah, gih punika mantu siwi, Honggayuda dhusun kitho. 28 pangran angling iya mantunira iki, cekel gawe apa, werganaya angot sari, dereng cepeng pendamelan. 29. wonten kitho aming inggihnya nyepahi, ing mitra wangsanya, jeng pangeran gya nimbali, Honggayuda sowan ngarsa. 30. ngandika rum eh Honggayuda semangkin, wit parentah ingwang, sira dadia patinggi, anyekela desa kutho. 31. sarta desa sakiwa tengene ugi, kang nyekel prentahan, sira ingkang mituwani, iki sun paring tondha. 32. ora susah sira ndherek laku mami, becik bali kutho, ing kana pacak baris, tarubena wong ing desa. 33. tandya sujud Honggayuda awot sari, pukulun sandika, amundhi sabda jeng gusti, jeng pangran gya budhal ngetan. 34. Honggayuda wangsul mring kutho wismeki, natrapken parentah, gancanging carita uwis, ambwah disa sadesa. 35. amung cacad jro jaman dahuru maksih, esuking ngesukan, singa kang rosa pakolih, desa kathah tetukaran. 36. mene gancaraken terahing mentawis, sang sunan mangkurat, kang madeg prabu ing tegil, ing budhalipun mangetan. 37. pasisir ler wau ingkang den wiyosi, kedhiri jog ira, anglarag Trunajayeki, reroncene tan winarna. 38. amung mendhet gancare ingkang kinawi, tempuh ing ngayun, trunajaya wis kajodhi, nagri mentaram kapegat. 39. jeng susunan mangkurat tandya nglenggahi, prasada mentaram, nguyuni kang rayi rayi, nagri arja karti karta. 40. wang wang kraton pindhah sangking ing mentawis, nenggih kartasura, semangke prasadanaji, tulus panjenengan Nata. 41. ri sampune surud kanjeng Sri Bupati, mangkurat ginantyan, ing putra pangran Dipati, juluk Sunan Mangkurat Mas. 42. datan lama jalaran selir widyasthi, karaton ginantyan, dening kang paman sudarmi, jeng pangran puger sudibya. 43. jenengipun sae kapraya kumpeni, kasub kaoningrat, jujuluke Narapati, jeng sunan mengku buwana. 44. pan sinigeg mangke carita mangsuli, kang amanting jiwa, tapa neng guwa menganti, tan kawruhan laminira. 45. krana sangking peteng tan wruh rina wengi, marmaning ywang suksma, kang ngasipat rahman rakhim, ngudaneni setyaning tyas. 46. jroning karna yayah lir kadi pinetik, Surawijayenggal, yatna ring sawiji wiji, panaul pan wus luwar. 47. ngungun astanira anggegem cumethi, tinurut ginrayang, satuhu wonda penjalin, laras sotaning sarkara.

  42. Irfan

    Ass…Saudara-saudaraku yg masih keturunan Aungbinang 1 saya ucapkan salam sejahtera semoga kita semua diberikan berkah oleh Allah SWT. Saya masih keturunan Arungbinang 1 dari Eyang Isbandiyah. Nama nenek ku Eyang Siti Harsuyati dan sering cerita tentang Joko Sangrib waktu itu sy pikir eyang cuma dongeng ternyata setelah sy besar sy tahu dan sy cari2 apa benar sy msh keturunan Arungbinang 1 ternyata benar. Saya ingin semua keturanan Arungbinang 1 berkumpul untuk silaturahmi bagaimana saudara2ku……..

    • Dian

      Walaikumsalam mas Irfan,
      senang berjumpa melalui blog ini. Salam kenal..Disini kami saling bertukar info perihal Aroengbinang. Apabila ada informasi silahkan di share disini.

  43. wprabasworo

    Terima kasih atas blog ini mohon dibuatkan account facebook saja supaya mudah

  44. cassa

    Assalamualaikum terima kasih, akhirnya saya tahu garis keturunan saya yang selama ini hanya dari omongan kakek saya, semoga kedepan kita lebih mengetahui dan mengenal satu sama lain dalam kekeluargaan “Eyang Aroeng Binang”

    Salam

    Wprabasworo
    III. Mas Ajeng Dewi, asal Winong, Wonoeyudho

    • Dian

      Walaikumsalam,
      disini kita bisa berbagi apa saja tentang keturunan eyang Aroeng Binang. Mohon di share jika ada informasi tambahan.
      Terima kasih

  45. ronald yamiharja

    Ass,
    salam kenal tuk semuanya…..secara kebetulan saya lewat di sini,setelah baca2+buka2,ternyata ada halaman ini……..
    btw,saya mau tanya…apa saya sekeluarga masih keturunan Eyang Rd Bagus Cemeti?karena di kampung kami(gombong) ada makam/petilasan Eyang Cemeti….malah juru kuncinya juga masih saudara dekat.
    Nenek saya sering dongeng dulu waktu kami masih kecil tentang mbah Cemeti, tentang kesaktian beliau dll, sampai cerita tentang ibu Dewi Roro Kidul……..Nenek berwasiat dalam dongengnya bahwa….keturunan mbah Cemeti tidak usah takut dalam menjalani hidup……kalau kita ada kesusahan atau sakit dll pasti mbah Cemeti atau ibu Ratu Kidul nengokin kita…ga usah takut………..
    memang terbukti waktu ibu saya masih kecil,pada waktu itu nenek saya sedang sakit keras+hujan deras sekali sore itu…..ibu saya menunggui nenek saya pada saat itu…..ibu saya ketakutan juga…..lalu nenek saya memanggil ibu saya……sini,dekat saya,jangan takut…….sebentar lagi hujannya juga berhenti,jangan takut! ada mbah Cemeti+ibu Ratu mau nengok saya…..
    tidak lama kemudian benar…hujan reda…….setelah reda,terdengar suara kaki kuda,penarik kereta kencana di atas genting……keteplak keteplok…..rame sekali…kayanya kalau dihitung mungkin kudanya ada 9 ekor+kereta kencana………cuma lewat doang di atas genting….setelah itu,nenek saya bilang pada ibu saya….tuh rombongan mbah sudah pulang lagi,cuma mau nengokin saya……setelah itu..nenek saya sembuh total dari penyakitnya…..
    Nah itu sedikit sejarah dari saya…..mohon bantuan saudara2 untuk mengkaji cerita tsb…….sebetulnya masih ada peristiwa aneh yg saya sendiri alami tentang Eyang Cemeti…..ntar disambung lagi…
    wassalam…Ronald Yamiharja.

  46. wprabasworo

    Dulu ada cerita diseputaran desa mirit, singkatnya ada om saya ****** dijemput kawannya menjelang magrib utk” kumpulan”artinya ada pesta pernikahan esoknya dan para pemuda kumpul dilokasi tempat nikah. Kemudian pergilah om ***** ketempat tersebut. Paginya kami mencari om ***** karena sudah 1 minggu tidak pulang sejak kejadian malam itu.kami berusaha mencari sampai kebumen atau kemanapun tpi tidak ketemu.terdengar kabar ada seorang laki2 ditemukan oleh “cah angon”/didaerah utara kampung kami tidak tau jalan pulang, maklum kami desa kecil jadi cepat beritanya. Nah kemudian diantarlah laki tsb ke desa kami ternyata om **** masih sehat agak kuyu dan sedkit lelah tpi bingung melihat kami yg berkaca2, menyambutnya.kami tanya om kemana sandalnya ? Hilang jawabnya. Ooo, tau gak ? Om udah ngak pulang 1 minggu. Dia kaget!!!hah masa ? Aku pergi cuma 1 malam kok ? Kemudian kami tanya bersama orang kampung yg telah lama menunggunya.” Saya diajak kesebuah desa katanya. Ada kumpulan” ya…saya ikut bonceng sepeda tadi malam” kemudian saya diajak keliling dirumah dan halaman tempat pesta tsb. Sangat megah persiapannya utk daerah kampung. Di belakang ada lumbung di samping ada wanita sangat cantik sedang masak utk pesta dan saya g pernah lihat kecantikannya disini. Tpi teman saya yang mengajak saya berpesan tidak boleh berbicara tentang tuhan walau didalam hati.kemudian om **** saya menjawab iya.saya g lupa utk itu. Nah pada saat itu om saya disuguhi makanan oleh seorang wanita.”Silahkan dimakan mas..” Oh, iya terima kasih.sewaktu dia mau makan iya membaca do’a “bismillahi rohmanirohim…. Belum selesai dia berdoa tiba2 dia ada dipinggir sawah dan kebingungan ada dimana dia…setelah itu iya bertanya pada “cah angon” utk kembali pulang dengan 1 sandal yg dipakainya sampai dia bertemu dengan kami dan bercerita kejadian yg diatas. Karena iya selalu ingat pesan orang tua dulu utk selalu mengingat Allah. @ base on true story

  47. sambung lagi ceritanya,
    dulu waktu kecil,saya seorang katolik,karena ikut ibu saya….tapi setelah dewasa saya masuk agama Islam…sampai akhirnya menikah dengan seorang wanita keturunan ningrat sumedang,kebetulan ayah mertua saya almarhum seorang paranormal…..akhirnya saya belajar tentang kebatinan,suatu saat mertua saya meminta saya untuk mencari/napak tilas,leluhur dari ibu saya(gombong).
    akhirnya saya pergi untuk mencari keberadaan leluhur saya,waktu itu tahun 2004…saya sampai di gombong dan langsung ke rumah mbah putri untuk tanya2 soal eyang Cemeti….akhirnya saya nyekar dulu di panembahan eyang Cemeti di dekat rumah mbah putri…..setelah selesai,saya bertemu dengan juru kunci panembahan,saya ceritakan maksud dan tujuan saya,akhirnya saya disuruh ke gua jatijajar,karena di gua jatijajar juga ada panembahan eyang Cemeti……ngga tunggu lama2,saya langsung ke gua jatijajar…disana saya ketemu juru kuncinya tapi saya lupa namanya…akhirnya saya dikasih alamat bulu pitu..kutowinangun.
    Esok harinya saya meluncur ke bulu pitu…akhirnya alhamdulilah…niat yang saya tuju berhasil…..hati saya gembira,bangga wah….ga bisa diomongin deh…saya dibimbing juru kunci untuk berdoa di makam leluhur…..akhirnya saya pulang ke bandung dengan bangga dan langsung saya temui mertua saya di sumedang…beliau acungkan jempol pada saya…..ya itu adalah kebesaran Allah,kalau kita mau ikhtiar pasti ada jalan…walau sesulit apapun..pasti ada jalan!sampai sekarang alhamdulilah wasukurilah binikmatilah saya merasa hidup saya tenang walaupun kadang2 ada juga sedikit halangan dan rintangan….namanya juga hidup ya…..
    sekarang saya suka bantu2 orang yang membutuhkan pertolongan doa,konsultasi,dll.
    Ngga komersil lho!hehehe…ngga pake tarif lagi…..
    Gitu aja dulu.
    Tolong saudara2 se karuhun/leluhur,beri masukan untuk saya…
    Terima kasih sebelumnya…Wassalam.

    • Sudjarwo S

      ass.W.W. P Ronald, sy lahir di desa Pesawahan,kec. Binangun, Bak. CIlacap. Menurut tepasan keraton Jogya ibu saya keturunan Ki Ageng Mangir sedang Bapak saya tidak jelas trahnya tetapi katanya si turunan Arung Binang. 3 tahun yang lalu tanpa sengaja saya diajak teman ke pertemuan paranormal mereka mantan pejabat2 salah satunya bilang saya sekarang dilindungi leluhur saya yaitu: Arung Binang, Nyi Bagelen, Pangeran Handayaningrat dan ada satu lagi sy lupa namanya.
      Saya mau tanya Pak Ronald, Apa omongan paranormal itu benar kalau benar kok saya tidak merasakan apa2. Kalau bisa jawabanya ke email saya saja Pak: djarwo9@yahoo.com. Maturnuwun.
      Sudjarwo.

  48. wprabasworo

    “Jadikanlah aku seperti lautan pantai selatan….yang tidak pernah mengenangi daratan walaupun selalu menerima luapan air dari jutaan anak sungai…”

    Artinya : ” nrimo ”

    Selalu ingat pada “Gusti Pangeran ” setiap waktu…jangan biarkan Qalbu kita kosong “Dzikru” hidup akan kembali ke “sana ” seperti lautan…

  49. Apakah ada kaitan antara Keturunan Arumbinang dengan pendiri Kademangan Podo Urip, sekarang masuk kecamatan petanahan.
    Salah satu peninggalannya adalah Sumur Banyu urip…
    Atau apakah ada yg bisa menceritakan tentang kademangan tersebut…?

    Trims

  50. zaldy sonata wonoyudo

    kok jadi bias semua yaaa…, mengenai wonoyudo.., yang aku ketehui pendiri organisasi wonoyudo yang di prakasai oleh Bp.Mayjen Dr. Kamil Wonojoedo (alm) (mantan Anggota DPRGR), Bp. Moch.Rosad Wonojoedo (alm), Bp. Mayjen. Burhani Tjokrohandoko (mantan Dirjen Haji) , Bp. Prof.DR. Sadatun, (dr. Pribadi Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX).., menurut mamah ku siti warsiningsih .., mereka semua sering berkumpul di paseban rayaa rumah mbah kakungku.., semua memberikan cerita putus putus dan jadi bias..,tks.

    • dewi

      sebenarnya pendiri paguyuban sentono wonoyudan/ wonoyudo banyak termasuk Alm Bapak saya (Bp. DR.H.R.A.W. Darwis, SH, Bp. Laksda. Drs. H. Moechrodji (mantan Dirjen Sosial), Bp. Drs. H. Pardjan Sasongko, SH, Bp. Adam Soetoyo, dll) saya dapet dari Bp. Herry Sumardjito yg tinggal di Jl. Karet Raya V No.28 Rt.005 / 07 Setiabudi Jakarta, Kalau Zaldy baca diatas belia ingin Paguyuban sentono Wonoyudan tetap exsis mungkin kita bisa sowan untuk melestarikan Paguyuban sentono Wonoyudan.
      Kalau zaldy mau beritanya tidak putus putus bisa ke rumah BP. Herry Sumardjito. Saya ada paper yg di buat oleh Alm bapak saya
      kalau silsilah yg di buat Bapak mengacu msh ada keturunan Brawijaya V sama putri cina.

  51. kami keturunan ki honggo putro yang bermakam di sarean sepujud desa pring surat temanggung jawa tengah….

  52. kakek buyut

    To : zaldy sonata

    Kami tahu semua tentang “wonoyudho” yang ditanyakan oleh sdr. subiyantoro tentang kadengaman podo urip ? Anda tahu g ??? Bukan tentang siapa anda ??! G nyambung neeeh…disini tempat seluruh keturunan “eyang aroeng binang” jadi kita bersilahturahmi satu sama lain tentunya.

  53. Ya eyang buyut … ayooo pada sungkeem ama mbah buyut…. kita syukuri dulu dengan adanya blog ini….. juga kepada saudara2ku, para seniorku yang dengan ikhlas bantu memberikan informasi… Masya Allah…senangnya… masalah cerita masa lalu ya wajarlah ada kurangnya krn beliau2 nya juga ga menikmati hidup pada masa itu… misalkan saja aku kalau cerita riwayat hidupku sendiri: jangankan dari waktu masih kecil mulai dari umur 30 th sampai sekarang jelas ada yang lupa…. ayoo2 semua di tunggu informasinya..??

  54. wahyudi

    Asslmkm. wah senengnya ada yang membahas tentang leluhur. Mohon maaf, saya mohon bantuan para sedulur untuk memberikan informasi tentang Rukun Sentono Tlogo terutama tentang almarhum kakek saya, yang kata Bapak saya bernama Mbah Kasan Muslim….terima kasih…Wassalam

  55. kakek buyut

    To:mas wahyudi

    Ayo bantu mas wahyudi…ditunggu infonya tentang Anak cucu Aroeng Binang.

  56. didi kh

    Saya punya buku silsilah lengkan AB1 sampai ABIX. Kebetulan Eyang Kakoeng & Putri saya keduanya keturunan AB. Saya lagi coba sadurkan kedalam Digital karena bukunya sudah usang2. Memang cukup rumit karena lengkap sekali garis silsilahnya. Rencana ini pernah dirintis oleh Om Ikram dari tahun 1999 tetapi beliau sudah sedo sementara data komputernya raib entah kamana, jadi saya buat ulang.
    Bismillah… Insya Allah bulan Feb 2011 sudah selesai. Bagi sedulur Trah AB khususnya Generasi Muda agar menjadi Jelas untuk mengetahui agar tidak “Kepaten OBOR”.
    Sabar dan sukses selalu…

    • Dian

      Terimakasih mas Didi atas informasinya.
      Semoga nanti kalau sudah selesai bisa di-share supaya keturunan AB dapat menilik jejak leluhur.

    • didiek

      terimakasih upayanya. itulah yg saya tunggu2. mohon info websitenya atau blog name nya jika sudah jadi. salam didik.susatyo@indosat.com.

      • djarot

        Mas Didiek aku punya bagan pohon silsilah sebelum panembahan senopati sampe turunannya AB mas mungkin kita bisa saling mencocokannya mas, istriku kerja di IM2 mas, adiknya pak Teguh Prasetya yg sdh resign dr Indosat, kapan kapan kita ketmuan mas

        • Didik Wedyo Susatyo

          Untuk Mas Djarot. Saya tunggu ya. Saya di Wisma Antara lantai 1.
          from my blackberry
          ________________________________
          From: “m i A w s A y s……..”
          Date: Tue, 23 Apr 2013 04:32:47 +0000
          To:
          ReplyTo: “m i A w s A y s……..”
          Subject: [New comment] R.T Aroeng Binang I (Djoko Sangkrib)

          djarot commented: “Mas Didiek aku punya bagan pohon silsilah sebelum panembahan senopati sampe turunannya AB mas mungkin kita bisa saling mencocokannya mas, istriku kerja di IM2 mas, adiknya pak Teguh Prasetya yg sdh resign dr Indosat, kapan kapan kita ketmuan mas”

    • dewi

      Kenalkan nama saya Dewi, saya Tidak lahir di kebumen cuma bapak saya asli kebumen yg kebetulah Juga Pendiri dari Paguyuban Sentono Wonoyudho dari Trah Wonoyudho Alus.
      Pak didik jika memang bisa di sadur kedalam digital boleh saya di kirimi ke rsjengratna@gmail.com
      matursuwun sanget dan salam kenal semua

    • Herna Mundung Surowati

      Yth.mas Didi Kh saya juga dari keturunan Aroeng Binang..betul sekali supaya tidak kepaten OBOR…saya jujur kurang paham ..saya itu keturunan Aroeng Binang ke berapa…saya dari Eyang Cokrosutikno..dimana Eyang Sukapti Cokrosutikno punya Kakak namanya Eyang RM Santoso Suryokusumo yang makam nya di rumah saya di Singosari Malang..semoga dengan dgn blog ini bisa terjalin silahturahmi lebih baik….mohon perhatiannya..

  57. dr.R.Wisnu Kusumawardana

    Pada komentar kali ini saya mau menanggapi ketidakbenaran beberapa pihak yang mengatakan Tmg.Arungbinang I pro Belanda. Dasar saya adalah salah satunya adalah Babad Mataram bahkan ada pula di dalam Serat Ngayogyakarta Pagelaran. Di dalam Perang Mangkubumi,dimana sebenarnya peperangan tersebut adalah perang melawan belanda serta antek2-nya,salah satunya sebagai perang untuk membatalkan perjanjian Ponorogo. Sebagai satu2-nya jalan adalah dengan jalan perang. Perang ini atas restu Paku Buwono II dan III. Konsekuensinya adalah pembiayaan perang juga, akan tetapi dilakukan secara rahasia, jangan sampai pihak Belanda beserta antek2-nya mengetahui. Siapakah yang bertugas kudamembawakan biaya perang ini? Didalam Babad2 disebutkan bahwa yang membawa misi rahasia ini adalah Tmg.Arungbinang I, dengan jalan biaya perang yang dalam wujud emas dan berlian dimasukkan kedalam sebuah Kendang besar, diselempangkan pada punggung beliau yang diselempangkan pada punggung beliau sambil naik kuda. Dengan berbagai cara beliau menerobos barisan Pangeran Mangkubumi, begitu sudah dekat dengan Pangeran Mangkubumi maka kendang diletakkan/diserahkan ke Pangeran Mangkubumi dengan berbagai upaya agar tidak terlihat berbagai pihak.Tugas ini berulangkali sampai selesai perang. Inilah salah satu bukti bahwa Tmg.Arungbinag I tidak pro Belanda, tetapi pro bangsa Jawa, sebenarnya bukti lain masih banyak yang menunjukkan bahwa beliau cinta bangsa dan bukan pengkianat bangsa. Jikalau ada pihak yang masih tidak percaya tolong baca sejarah, buka dan cermati berbagai manuskrip di keraton Solo, Mangkunegaran maupun Yogyakarta, jadi tidak asal berucap.

  58. dr.R.Wisnu Kusumawardana

    Jadi posisi Tmg.Arungbinang I ada pada pihak Keraton Solo yang bukan pada pihak Belanda serta antek2-nya. Perlu diketahui bahwa, pada saat itu Keraton Solo disusupi oleh pihak Belanda. Sampai2 masyarakat tidak mengetahui mana pihak Keraton Surakarta yang sebenarnya. Maka dalam perang Pangeran Mangkubumi ini, pihak2 yang dicurigai pro Belanda dikorbankan bahkan berupaya dihabiskan. Andaikan biaya perang dibawa oleh orang yang pro Belanda tentunya Perang Pangeran Mangkubumi banyak kendala dan bahkan menjadi berantakan, sehingga tujuan untuk membatalkan perjanjian Ponorogo tidak akan berhasil. Karena sedemikian pentingnya tugas maka dipilihlah orang yang loyal, setia,kuat dan pandai. Maka pilihan salah satunya adalah pada Tmg.Arungbinang I, beliau mampu menjalankan misi rahasia tersebut dengan gemilang, tidak ada yang mengetahui tugas rahasia beliau sampai wafatnya. Nilai nasionalisme yang tertanam dalam diri beliau sebagai putra Pangeran Puger/Paku Buwono I tidak luntur sedikit-pun. Tidak ada yang meragukan berbagai pihak bahwa kepandaian, kemampuan, kekuatan serta kesetiaan beliau, baik pihak Keraton Surakarta, Pangeran Mangkubumi maupun Pangeran Sambernyowo. Beliau membuktikan sebagai trah-ing kusumo rembesing madu, wijiling atapa.

    • Arik

      Salam,. senang bisa mendengar dan menyaksikan saudara2 disini “melek” sejarah, terutama sejarah Famili. Saya arik, wartawan dari Majalah HISTORIA, sedang menulis mengenai sejarah penganugrahan gelarm (kekancingan) kepada tokoh diluar keluarga keraton. Baru2 iini menjadi perbincangan hangat bahwa gelar semacam itu menjadi komoditi, meski ada pula tokoh yang layak mendapatkannya. Email saya: satusejarah@gmail.co atau no hp: 0878 5456 8638. Semoga saudara2 bisa membantu mengkonstruksi “sejarah” tersebut.
      Suwun…rahayu..rehayu..rihayu.

  59. didik

    saya mau tau tentang sejarah desa saya, desa jrakah…kalo ada yang tau tolong kirim ke email saya…didikprast@ymail.com….saya tunggu infonya….thanks

  60. Didit Wahyudi Wahono

    Saya Ingin tanya Apakah Paguyuban Trah ArungBinang (PATRAB) masih berjalan? Jika masih berjalan adakah alamat email atau websitenya. Tolong kabari ke saya di email saya bascom17@gmail.com

  61. wahyudi

    Assalamu’alikum wr wb
    terima kasih atas dukungan semua sedulur, akhirnya saya tahu silsilah keluarga saya setelah nyekar ke Makam para leluhur di Tlogo Mirit bersama Bapak ku, dan sekalian mendapatkan beberapa peta silsilah keluaraga (terutama dari keluarga KH Yahya bin Tjokroyudo Gunung bin Wonoyudo Halus hingga ke posisi Bapak saya). sekali lagi terima kasih, semoga tali silaturahmi tetap tersambung dan terjaga…
    wassalamu’alaikum wr wb
    salam hormat pada semua sedulur

  62. bagas priyono

    Assalamu’alaikum,Info mas wahyudi tuk paguyuban kayaknya masih diuri-uri kalau gak salah Paguyubah Trah tumenggung Wonoyudo, yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali bertempat di plek pemakaman Tumenggung Wonoyudo Ds Mirit Kec Mirit Kab. Kebumen,biasanya pelaks pada bulan Sya’ban krn klrg yg disana ikut brgabung juga, Wassalam …. Mksh.

  63. bagoes

    I like’ jangan lupa kan sejarah’ MERDEKA,,,

  64. bagoes

    salam to saudara2 qu smua’ adakah yg tau sejarah eyang q’ eyang guru’ yg dimakamkan di desa sambiloto,jg eyang qu heru cokro,menurut kraton solo & kraton yogya (sakral)??? heee… numpang lewat…. monggo’

  65. Sekedar info bahwa Istri Mantan Bupati Purworejo Ibu Yuli Astuti atau yang sekarang sedang menjabat sebagai ketua DPRD Purworejo periode 2009 – 2014 beliaunya juga keturun dari AB, ada juga keturunan dari Mbah Dr Dardi mempunyai anak Lettu Penerbang Surendro Alm yg konon ceritanya meninggal dalam penugasan penerbangan pesawat tempur ke biak dan beliaunya mempunyai 2 anak laki dan masih hidup/cucu RI satu alm… beliaunya masih keturunan AB… mohon maaf bila ada kekliruan atau yg punya keterkaitan tidak berkenan, saya hanya bermaksud agar saudara – saudara kita keturuna AB ini lebih termotivasi untuk menjalani hidup di era masa yang akan datang.suwun…

  66. RB.Budi Santoso

    Saudara2 saya pingin kupul2 bahkan bikin paguyuban Trah Raden Mas Jolang (SAMPEYAN DALEM INGKANG SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN HADI PRABU HANYOKROWATI ING MATARAM KOTA GEDE )Atau trah BPH.Boemidirjo,biar tambah sudara dan tidak kepaten obor, bisa lwat email atau Hp. saya 0815 781 76854.trimakasih

  67. b.prabowo

    Para sedulur terhormat saya senang bisa ikut share info ttg Aroeng Binang dulu di Jakarta memang pernah dibentuk Paguyuban Trah AB (disingkat PATRAB) dan almarhum ibu saya yakni ibu Sri Amini Tirtodiprodjo (memperbaiki nama yg dikirim rekan bp Sutarno) pernah menjadi ketuanya dan kita jga punya majalah untuk komunikasi warga namanya PATRAB juga dan dulu kita ada hampir diseluruh Indonesia bahkan Malysia acara yg sering dilakukan nyadran bersama sebelum ramadhan dan yg biasa dilakukan adalah ziarah ke Makam Aroeng Binang di Kebejen Kutowinangun dan biasanya malamnya ke Bulupitu petilasan eyang AB I dg Dewi Nawangwulan sementara info itu dulu saya keturunan eyang AB V . . .Husna apa kabar?

    • Halo b.prabowo apa kabar nih. Penasaran aku, maaf ya ini betul apa tidak. Ibu Sri Amini apa 4 bersaudara: Soeryono Tirtodiprodjo, Sri Redjeki Tirtodiprodjo, Sri Amini Tirtodiprodjo, dan Sri Pamoedji Tirtodiprodjo

    • Herna Mundung Surowati

      Yth.bp.B.Prabowo..betul sekali diadakan pertemuan lagi supaya tidak Kepaten Obor,..saya tinggal di Singosari Malang dimana ada Makam Eyang Santoso Suryokusumo yang masih keturunan AB..saya kurang paham..saya keturunan AB yang ke berapa..infonya sih kalau tidak salah dari Eyang AB V…apa betul yaa…mohon penjelasan..terima kasih….alamat email/YM saya di….hernach_sembrani@yahoo.com atau dengan no telp. 081 131 3454 .

  68. Bangun… tidur lagi … jangan tidur lagi sedulur… Mari bangun dan semangat membangun…

  69. Nyuwun sewu Raden….saya hanya mau menanyakan barangkali ada dokumen/cerita kademangan Karanglo,sekarang menjadi desa podo urip dengan sumber air banyu urip,Kec.Petanahan, karena menurut cerita baik tutur dari paranormal serta jurukunci sumur tua tsb,area tsb tidak terpisahkan dengan AB dan kolopaking serta Keturunan Pembayun+Mangir. fakta bahwa masih ada hub dg cerita tsb, sampai sekarang pd hari-2 tertentu, pihak kraton solo dan Jogya selalu mengirim utusannya. Bahkan HB IX dengan menyamar sbg petani (baju jawa rendah) pernah sowan dan menyepi disana sekitar th 78….

    • heri

      Salam numpang lewat, maaf saya cuma rakyat jelata yg konon berasal dari desa Prembun kebumen, ayah saya tentara di PWT pensiun sampai meninggal, di PWT tdk ada sanak saudara, Katur dr. R wisnu K, ditunggu crita selanjutnya, sapa tau saya jadi tau asal usul saya dari mana, Suwun

  70. Hei, salam kenal. Saya juga keturunan Arumbinang. Dari trah wongsodiwiryo. Kalo tidak salah dari eyang putri saya, saya itu keturunan ketujuh. Keturunan dari wongsodiwiryo masih sering mengadakan silaturahmi akbar setiap tahun. :)

  71. Lies Soedewo

    halo semua, salam kenal … saya keturunan Aroeng Binang juga (dr pihak ibu), tp lupa dari AB berapa krn catatannya ketlisut entah dmn … ketika ibu saya msh sugeng, saya pernah mengantar beliau hadir di acara kumpul2 keluarga AB (PATRAB) … ibu saya juga sering ziarah ke Kebejen & Bulupitu. Apakah perkumpulan PATRAB ini masih ada? Matur nuwun.

  72. Assalkm, salam sejahtera semua . . .!! Salam kenal . . .Boleh ikut nimbrung ya . . ., soale aku jg lg nyari silsilah keluargaku yg menurut sebuah catatan ayahku silsilahku berasal dari R.T Arung binang 1, alias Kyai Honggowongso. Dan kemudian turun ke R. Ayu Abdulsalam, istri dari R. Abdulsalam (Beliau ikut dalam pemberotakan melawan penjajah yg dipimpin oleh Pangeran Diponegoro), mohon koreksinya ya. Trksh

  73. Hedy Soesilo (trah aroeng)

    Hallo..kita ternyata saudara sebuyut yaa…sy keturunan dari Eyang Aroeng binang II, keturunan ke 19. Saya ingin bergabung dalam paguyuban trah Aroeng Binang…Katanya berpusat di Tebet Jakarta ya? Ok sementara segini dulu…Oya adapun facebook saya “Trah Aroeng” Add yaa ? Biar talisilaturahmi diantara keluarga besar Aroeng Binang tetap terjalin.

  74. assalamualaikum wr wb
    nama saya Dimas Rifan Arumbinang,kata ayah saya saya masih keturunan R.T Aroeng Binang,saya hanya mendengar cerita2 dari ayah saya tentang beliau,bahkan saya juga belum pernah ke petilasan beliau,kalo boleh tau saya minta dijelasin cerita aroeng binang yg komplit dong,makasih

  75. Ridho

    Assalamualaikum wr wb, selamat pagi semuanya… Saya mw bertanya .. Sudi kiranya saudara2 menginformasikan posisi percuisnya maka. Arung binang, kebumennya dimana? Posisi saya d lampung.. Mohon bimbingannya,klo dri Jakarta saya naik apa Dan berhenti dimana untuk k lokasi makam arung binang… Jazakumullah khairan katairan sblmnya.. Ridho.. Tolong bales via email ya,
    Klo bisa sekalian denahnya…

  76. didiek

    Para Keturunan Tumenggung Aroeng Binang, kalau bingung2 datang saja ke rumah di Jalan Lumbu Tengah 5 Blok 4 nmr. 2 RW. 027 RT. 02 Bumi Bekasi Baru, Bojong Rawalumbu, Rawalumbu, Bekasi. Nanti cari saja Pak Didiek Wedyo Suatyo. Atau hubungi 0816101502. Mari mulai sekarang kita jalin silaturahim Trah Aroeng Binang. Atau email ke didik.susatyo@indosat.com.

  77. Didit Wahyudi Wahono

    @Ridho Kalo anda dari jakarta naik kereta yg ke yogyakarta nanti anda turun di station KEBUMEN atau Purwerjo dari sana anda naik bis yg jurusan KUTOWINANGUN.Nanti setelah sampai dikutowinangun berhenti dekat pasarnya tanya saja makam AB DIMANA? Pasti akan diberi tahu oleh masyarakat sekitar,karena makam AB SUDAH TIDAK JAUH lagi dari pasar KUTOWINANGUN TSB.

  78. @ LIES SOEDEWO, kalo menurut Pade Saya B.H. SOEPONO, PATRAB itu masih ada, Karena tahun lalu saya diajak untuk menghadiri acara Halal Bihalal PATRAB didaerah cilandak. Tapi saya tidak bisa hadir waktu itu.

  79. @ B.PRABOWO, Mas PRABOWO kalo boleh tolong dilihat alamat redaksi majalah PATRABnya, para pengurusnya siapa saja dan kalo ada no.telp yang bisa dihubungi kalo bisa di tulisdihalaman ini Mas.TERIMA kasih

  80. asngad

    minggu kemaren ke pesanggrahan joko sangkrib sama anak-anak….di brecong…

  81. Sentot Hedisatmoko

    Gabung yuk para putro wayah eyang Aroeng Binang di facebook traharoengbinang@yahoo.co.id , saya keturunan Eyang Aroeng Binang II
    (Trah Aroeng)

    • djarot

      Pak Sentot dan rekan mohon info ke saya siapa saja yang bekerja diseputar sudirman jakarta karena saya mau titip disebarluaskan pohon silsilah panembahan senopati termasuk arum binang ke saudara saudara kita satu trah agar bermanfaat terimakasih saya di email djarottrihaditomo@ymail.com atau kirim pesan di facebook saya terimakasih

  82. Someone

    Agan agan..para putro wayah Eyang Aroeng Binang…gabung yoo di fb paguyuban traharoengbinang@yahoo.co.id Disini ada sejarah AB dan silsilah lengkap….Jangan lupa add yaaah….Matur nuwon !

    • Didik Wedyo Susatyo

      from my blackberry
      ________________________________
      From: “m i A w s A y s……..”
      Date: Tue, 23 Apr 2013 04:37:13 +0000
      To:
      ReplyTo: “m i A w s A y s……..”
      Subject: [New comment] R.T Aroeng Binang I (Djoko Sangkrib)

      Someone commented: “Agan agan..para putro wayah Eyang Aroeng Binang…gabung yoo di fb paguyuban traharoengbinang@yahoo.co.id Disini ada sejarah AB dan silsilah lengkap….Jangan lupa add yaaah….Matur nuwon !”

      • Sudjarwo S

        Mas Didik sy setuju mbok iya kita coba ngumpul sbg pra penelusurahn trah eyang kita, dg masing2 membawa ceritanya sendiri2 dan kalau ada pohon silsilah bagus juga. Mas coba ini email2 dibuat group saja. kapan ngumpul2?
        sudjarwo

        • Didik Wedyo Susatyo

          Saya sangat setuju usul Mas Jarwo. Dan untuk semuanya yg merasa Cucu Aroeng Binang maka bersiaplah untuk Sarasehan Agung Keluarga Besar Aroeng Binang.

          Marilah mulai sekarang masing2 menginformasikan keahlian yang dimiliki. Yang ahli IT segera berpikir tentang pengembangan data base. Yang ahli menulis segera menyiapkan mekanisme dan teknis penulisan2 sejarah dan kisah. Yang ahli Bahasa Jawa Kuno segera menelusuri naskah2 terutama di Perpustakaan Keraton. Yang sebagai Event Organizer segera menyiapkan pembahasan Sarasehan Agung.

          Jangan bicara politik dan ekonomi dan jangan bicara pengembangan bisnis dulu di dalam forum ini. Forum ini harus mengutamakan SILATURAHIM.

          Jika saudara2ku semua setuju, maka silakan menghubungi saya di HP saya 0816101502. PIN BB 290B068E. Saya membutuhkan seseorang yang memahami IT Programer, Sarjana Sejarah, Ahli Bahasa Jawa, Ahli Bahasa Belanda, dan Ahli Event, serta diperlukan juga informasi tentang siapa saja yg memiliki fasilitas2 ataupun relasi2 yg memungkinkan rencana dapat terealisasi. Background saya sendiri adalah Antrpologi.
          from my blackberry
          ________________________________
          From: “m i A w s A y s……..”
          Date: Wed, 5 Jun 2013 03:01:19 +0000
          To:
          ReplyTo: “m i A w s A y s……..”
          Subject: [New comment] R.T Aroeng Binang I (Djoko Sangkrib)

          Sudjarwo S commented: “Mas Didik sy setuju mbok iya kita coba ngumpul sbg pra penelusurahn trah eyang kita, dg masing2 membawa ceritanya sendiri2 dan kalau ada pohon silsilah bagus juga. Mas coba ini email2 dibuat group saja. kapan ngumpul2? sudjarwo”

          • Trimakasih Pak Didik nomor HPnya. Para sedulur monggo sampaikan nama dan alamat rumah/kantor lengkap dg no.HPnya, dan sy usul Pak Didik mendokumentasikan nama2 sedulur kabeh, lalu dibentuk tim kecil untuk mengevaluasi apa mungkin diadakan pertemuan awal dilihat dari jumlah dulur2 yg menyampaikan nama dan alamatnya. Kalau saya si penggembira saja Pak….salam untuk dulur kabeh.

          • eh ana sing kelalen… alamat saya : sudjarwo Jl. Perikanan no. 27, Empang 3, Ps. Minggu,
            Jaksel 12510. HP: 0811890117.

  83. andi

    menurut info mbah sy eyang sy dulu ada prajurid mataram beliau memiliki senjata tri sulah dan kris yg selalu dibawah perang atas nama cokro wongso saya mau cari kebenaran sisilah eyang sayaa uda sy carii kemn mnn

  84. @moen

    semoga anak cucu A-B bisa meniru atau mencontoh perjuangan bliau dalam segala hal

  85. hendro condro

    dear all:
    baru lebaran kemari saya dapet cerita ,mengenai sejarah keluarga saya yang berasal dari kutowinangun…dg urutan dr kakek yaitu dipa menggala-citra wangsa dan candra bangsa lalu lahir ayah saya…kebetulan saya tinggal di bangka belitung…dg adanya cerita itu menggugah saya untuk lbh tau lagi…..mhn bantuan arahan dan bimbingan rekan@ sekalian bagaimana saya mesti memulai menelusuri leluhur saya…mhn bantuannya…cp_satria@yahoo.com

  86. djarot

    Saudara saudaraku trah AB kalau ada kumpul kumpul mohon aku di kasih tau via emailku djarottrihaditomo@ymail.com terimakasih sampai berjumpa

  87. Salam rahayu sedanten mohon maaf sya bener2 kepaten obor saya mencari sililah keluarga saya mohon bila ada info
    embah canggah sya bernama P suryadinata mendapat gelar dari mataram Kentol tirto wijoyo kemudian memiliki putara bernama wongsodikromo jg mendapat tugak dari amangkurat bertugas dipurwakatra jabar yg beliau juga di sarekan dipurwakarta

  88. Wah, seru juga ini baca tulisan soal AB
    (Wicak a.k.a Nono, putra Bu Enny Tirtodipro, cucu eyang Surjono Tirtodiprodjo (putra dari R. Tirtodiprodjo/ cucu eyang AB V)

  89. Joko Tripamardi

    Hmmm…menarik mendengar pendapat pengutaraan tentang Eyang Arum Binang,….Nenek Buyut Saya tinggal Ds Kembang Sawit , Kutowinangun,..yang saya dengar dari Eyang Seger (R.Sastrasudarmo dahulu kepala pegadaian Kutowinangun) adalah kami trah Prasutan Prembun pancer dari Pugeran, dari keturunan Pugeran biasanya mempunyai nama yang singkat dan mempunyai arti dikehidupan, seperti, Puguh, Kukuh, sedang Eyang Putri dari Ambal,.buyut juga dari Ambal, kebetulan buyut saya dahulu kentol di Ambal.

  90. MUH SALIM

    Sangat menarik membaca artikel ini….Klo saya dari Karangsari Kebumen, tapi Mbah & Buyut & lelulur2 yg laen juga asli Kalijirek.

    Dan kata mbah saya setiap anak cucu yang masih keturunan kalijirek klo mau punya hajat (sunatan, mantenan dll) disarankan/harus membuat nasi kuning dan nyekar/ngirim doa dulu ke Makam Raden Tumenggung Kolopaking ke 1,2,3 & 4 yang ada di desa kalijirek dan juga kirim doa ke R. Aroeng Binang.

    Yang ingin saya tanyakan ada Hubungan apa ya, antara Raden Tumenggung Kolopaking & Raden Aroeng Binang ? apa masih 1 buyut atau gimana ya ? MOHON PENJELESAN.

    Matur nuwun.

  91. Bicara soal sarasilah atau keturunan Mbah Arung Binang, Jaka Sangkrib dan sesepuh-sesepuh Kebumen, baik di kota maupun di Desa-desa, saya jadi teringat mbah buyut saya sendiri di daerah pegunungan Karanggayam. Karena, setelah ditelusuri, semua para sesepuh, ternyata masih ada kaitannya antara para sesepuh itu. Oleh karenanya, saya sangat setuju bagi para penggemar sejarah, untuk terus menuliskan sejarah itu melalui dunia maya. Walau berbagai versi yang berbeda-beda. Semoga semakin menambah lengkapnya catatan ini.

  92. R. Seto Kusumo

    Mohon informasinya teman-teman disini bagi yang tahu tentang sejarah atau silsilah dari Raden Demang Wanadipa dan Raden Demang Wirogati, karena menurut simbah saya beliau berdua masih leluhur saya yang berasal dari Kebumen yang masih Trah Mataram. Setahun yang lalu saya pernah ke makam beliau di desa Wirogaten Kebumen untuk mencari tahu silsilah tersebut namun Juru kunci makam tidak mengetahui silsilah dari Raden Demang wirogati, dan di komplek makam itu sendiri ada satu makam lagi yang konon itu makam pengawal Raden Demang Wirogati yang bernama Raden Mas Sekar Panji Notokusumo. jika teman-teman ada yang tahu tentang informasi tersebut mohon bantuannya…ke Email: mataram.trah@yahoo.com
    Matur Nuwun, salam paseduluran

  93. MENARIK SEKALI…..SAYA SEDANG MENYUSUN SEJARAH KEBUMEN BILA ADA DATA ATAUPUN SURAT SURAT KUNO ATAU FOTO TLG HUBUNGI SAYA DI 081548853111

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s